Esai : Budaya Membaca Vs Budaya Menonton TV

www.kinamariz.com -Image Source : generationmedia.co.uk-
#SakinahMenulis-Pernahkah kita menghitung, berapa jam setiap hari yang kita habiskan untuk menonton televisi? dan berapa jam pula yang kita habiskan untuk membaca? Tidak dapat dipungkiri, budaya menonton televisi telah mengakar di masyarakat.

Saat ini, hampir setiap rumah memiliki televisi. Baik di lingkungan pedesaan, apalagi yang berada di wilayah perkotaan. Keberadaan televisi bahkan tidak mengenal status sosial. Miskin atau kaya, semuanya memerlukan televisi. Televisi seolah menjadi kebutuhan primer ketiga setelah kebutuhan sandang-pangan, sebab menonton melibatkan aktivitas pokok masyarakat setelah makan-minum. Siaran yang ditonton pun beragam, mulai dari acara musik, konser dangdut, gosip, sinetron, reality show, bahkan ajang mencari jodoh. Tontonan yang disajikan ini dapat dinikmati kapan saja dan oleh siapa saja.

Kemudahan menikmati layanan televisi dan fungsinya sebagai media hiburan, tampaknya menjadi peluang yang benar-benar dimanfaatkan industri bisnis pertelevisian. Masyarakat ketagihan menonton tayangan hiburan. Televisi pun menjadi pusat gravitasi kehidupan yang diletakkan di ruangan yang khusus dan nyaman, sehingga waktu menonton menjadi lebih panjang. Masyarakat betah menonton dan kehabisan waktu untuk membaca. Padahal dengan membaca, banyak informasi yang sifatnya lebih edukatif dan bisa melatih kecerdasan intelektual, juga emosional pembacanya.

Ray Bradbury, seorang penulis asal Amerika Serikat berkata “Anda tidak perlu membakar semua buku untuk menghancurkan suatu kebudayaan. Perintahkan saja orang berhenti membaca, itu sudah cukup.” Dengan kata lain, membaca merupakan simbol kemajuan peradaban suatu bangsa. Budaya membaca adalah tolak ukur kualitas bangsa, apakah bangsa itu tergolong maju atau bangsa yang primitif. Berdasarkan kepentingan itulah, membaca dijadikan indeks pembangunan yang dipakai untuk mengukur keberhasilan pembangunan sebuah Negara.

Kemudahan mengakses dan menikmati hiburan surplus melalui kegiatan menonton, dapat berdampak buruk terhadap psikologis generasi muda. Rentang usia 5-16 tahun adalah usia membaca dan menghafal, sementara usia 17 tahun keatas adalah usia berfikir dan menganalisis. Akan tetapi, dengan maraknya hiburan surplus ini banyak generasi muda lalai dan tidak mampu mengembangkan potensinya.

Generasi kita berubah menjadi generasi yang vakum dan tidak produktif, karena setiap hari dihabiskan dengan menonton dan terus menonton. Akibatnya mental generasi muda kita adalah mental penonton, bukan mental pemain. Hal ini disebabkan budaya menonton menghasilkan pola pikir liner dan simplitis. Yaitu pemikiran bahwa kehidupan akan terus berjalan dengan sendirinya. Generasi kita malas bertindak, tidak terarah dan tidak memiliki gairah untuk melakukan sesuatu perubahan yang inovatif dan kreatif.

Dunia telah mencetuskan, bahwa tanggal 23 April adalah hari buku dan hari hak cipta internasional. Pernyataan ini tentu menjadi sangat riskan dengan situasi yang terjadi di negara kita, dimana kebutuhan membaca minim sekali ditemukan di masyarakat. Hal inilah yang membuat Indonesia jauh tertinggal dengan negara-negara berkembang lainnya, misalnya saja Jepang. Walaupun Jepang memiliki sumber daya alam yang terbatas dan wilayah negara yang lebih sempit dibandingkan Indonesia, namun perbedaan kemajuannya sangat mencolok.
www.kinamariz.com -Image Source : 123RF.com-
Motivasi dan tekad kuat yang dimiliki oleh rakyat Jepang, patut kita tiru karena membaca merupakan aktivitas mengumpulkan informasi. Orang yang banyak membaca adalah informan. Membaca, bukan hanya menyerap informasi-informasi up to date, melainkan juga informasi lama yang diakui keakuratannya. Kebaruan informasi tidak menjadi masalah, alasannya setiap informasi berpeluang untuk memecahkan masalah yang terjadi di masyarakat. Membaca bisa juga diartikan kegiatan  mendokumentasikan data dan  peristiwa dengan menggunakan software manusia.

Pemanfaatan struktur otak sebagai instrumen kecerdasan perlu kita asah. Kecerdasan intektual terletak pada otak kiri dan kecerdasan emosional pada otak kanan.  Sel saraf otak kiri berfungsi sebagai alat kecerdasan yang sifatnya logis, sekuensial, linier, rasional, teratur, verbal, realitas, abstrak, dan simbolik yang berkontribusi untuk sukses individu sebesar 20%. Otak kanan berkenaan dengan kecerdasan yang sifatnya acak, intuitif, holistik, emosi, kesadaran, spasial, musik-puisi, keindahan-keburukan, dan kreativitas yang berkontribusi untuk kesuksesan individu sebesar 40%.

Otak manusia sebagai software berrkapasitas tak terbatas yang sewaktu-waktu dapat terus diisi dan diperbaharui memorinya tanpa harus mengahapus file-file lama. Kelebihan yang terdapat dalam diri manusia ini adalah karunia terbesar dari Sang Pencipta. Sebagai hambaNya yang beriman, maka sudah sepatutnyalah kita memanfaatkan dan melestarikan potensi yang ada dalam diri kita dengan membudayakan membaca.

Mengasah kemampuan berbahasa dan berlatih untuk menalar suatu informasi baru adalah konsep dasar membaca. Albert Einstein, orang nomor tiga yang paling berpengaruh di dunia adalah seorang pembaca ulung. Begitu pula dengan Ir. Soekarno dan Prof. Dr. Baharuddin Jusuf (BJ) Habibie. Mereka adalah orang-orang biasa yang kemudian menjadi luar biasa setelah membudayakan membaca dalam hidupnya.

Budaya membaca membuat seseorang menjadi lebih cerdas dan berwawasan. Keterampilan membaca inilah yang menciptakan mind-set seseorang agar terbiasa bersikap kritis, kreatif, dan inovatif. Maka, tidak salah bila kita menyatakan bahwa orang yang menguasai teknologi adalah orang yang membaca, sedangkan orang yang dikuasai teknologi adalah orang yang menonton. Sebenarnya menjadi penonton juga bukan hal yang buruk. Banyak hal yang terjadi di dunia ini disaksikan oleh penonton. Permasalahannya adalah ketika kita terbiasa dengan budaya menonton, akan tercipta suatu kondisi dimana kita merasa cukup puas dengan apa yang kita lihat. Sikap pasif dan apatis yang ditimbulkan dari keseringan menonton inilah yang perlu dihindarkan.

Menonton dan membaca, keduanya merupakan proses reseptif, namun dalam penerapannya sering kali disalah-porsi-kan masyarakat, terutama generasi muda kita. Untuk itu, perlu perhatian serius dan kerjasama yang baik antara masyarakat dengan pihak pemerintah. Sampel yang paling sederhana adalah keluarga. Orang tua adalah madrasah pertama anak sebelum dia mengecap pendidikan yang sesungguhnya dibangku sekolah. Komunikasi dua arah yang lancar antara kedua belah pihak dalam rangka mewujudkan generasi cerdas dan cinta membaca perlu dilakukan.


Menonton dan membaca adakalanya sebuah proses yang saling terkait. Seseorang menjadi cerdas bukan hanya karena membaca, tetapi juga dengan pengalaman-pengalaman langsung yang bisa dilihat melalui media audio-visual. Sekali lagi, tentu saja dengan porsi yang tepat dan disesuaikan pada tingkat kebutuhan.


www.kinamariz.com -Images Source: Sites.psu.edu-
(Penulis adalah mahasiswi Semester II, Jurusan Bahasa Dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni,  Universitas Negeri Medan.)

Tulisan Ini Telah Dimuat dan Dipublikasikan di Rubrik Rebana, Koran Analisa Minggu 2010
(Ditulis oleh : Sakinah Annisa Mariz)

No comments

Mohon tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar. Terima kasih.

Literasi Digital