Naskah Teater : Jendela-Jendela

www.kinamariz.com
Kala Sumatera 2011 - Naskahku Jendela-Jendela
#SakinahMenulis-Di pertengahan tahun 2011 lalu, aku pernah mengikuti sebuah program bernama Kala Sumatera. Program ini menghadirkan para penulis perempuan se-Sumatera dan menggandeng para pegiat Teater, hingga LSM yang mengusung isu perempuan. Digelar di Lampung, dan dilaksanakan oleh Teater Satu, berikut kutampilkan naskah drama yang kutulis dan telah dipentaskan oleh Teater Rumahmata di kota Binjai, Medan, Lampung dan Jakarta. Sekilas info, Teater Rumah Mata yang dimpimpin Agus Susilo dan Istrinya, Sang Sutradara Perempuan, Sidratul Muntaha (Sidra MH) adalah komunitas yang membawaku mengikuti kegiatan ini.
"JENDELA-JENDELA"
Karya                 : Sakinah Annisa Mariz
PARA PEMAIN : Nenek, Cucu Perempuan, Anak Kecil, Pengemis

ADEGAN I
DI RUANG KELUARGA, SEORANG ANAK KECIL ASYIK BERMAIN DENGAN BONEKANYA. CUCU PEREMPUAN SEDANG MEMBUATKAN SUSU DI BELAKANG. TERDENGAR DENTING SUARA GELAS DAN SENDOK BERSAHUT-SAHUTAN. NENEK MENYISIRI RAMBUTNYA DI SUDUT RUANGAN. SUASANA SIANG LENGANG TERLIHAT DARI JENDELA BESAR YANG DIBUKA LEBAR.
NENEK : (DUDUK SAMBIL MENYISIR RAMBUT PUTIH PANJANGNYA) Sebentar lagi. Aku yakin, tidak lama lagi. ANAK KECIL MENOLEH SEBENTAR PADA NENEK, LALU MELANJUTKAN PERMAINANNYA.
CUCU PEREMPUAN : (MUNCUL DAN MENYODORKAN SECANGKIR SUSU) Minumlah, Nek. Susu ini bagus untuk pertumbuhan tulang dan gigi.
NENEK : Segelas susu tidak mungkin bisa menghentikannya. (TERUS MENYISIR, MEMBERSIHKAN SISIR DARI SISA RAMBUT YANG RONTOK)
ANAK KECIL : Menghentikan apa?
NENEK :
Menghentikan... (MENATAP JAUH)
CUCU PEREMPUAN :  Sudahlah Nek, minum saja susu ini.
NENEK : Kau selalu membuatkanku susu, seolah aku bayi yang kehausan. Padahal tak ada yang berubah. Susu itu tidak ada artinya. Tidak lama lagi. Ya, tidak lama lagi. (MENATAP KE JENDELA)
TERDENGAR KETUKAN PINTU
PENGEMIS : Ahli bait yang pemurah. Tolonglah. Sedikit sedekah untuk mengisi perut. Hamba sangat lapar dan haus. Duhai makhluk Tuhan yang taat dan beriman.
NENEK : Dia mengajak Tuhan mengemis. Hah,licik sekali!
CUCU PEREMPUAN : (BERPIKIR SEJENAK). Nah, lebih baik susu ini untuknya saja. (MENUJU PINTU)
NENEK : Tidak! Aku mau meminumnya. (BANGKIT DAN MENGAMBIL GELAS DARI TANGAN CUCU PEREMPUAN)
CUCU PEREMPUAN : Bukankah susu ini tidak berguna untuk nenek? (BERBALIK  MENUJU PINTU)
NENEK : Tidak sudi aku memberikan susu ini pada orang yang menjual   Tuhan demi mengisi sejengkal perutnya. Dia pengemis licik, kurang ajar, memperalat aibnya untuk menipu orang.
CUCU PEREMPUAN : Nek, Tuhan menyeru kita untuk membagi kelebihan pada orang yang kekurangan. Apa nenek tega membiarkan dia mati kelaparan di luar sana? Sebagai perempuan, harusnya kita lebih peka.
NENEK : (TERHENYAK) Kau benar. Tapi buat apa beramal kalau aku tak ikhlas? Berikan padaku, aku akan meminumnya.
CUCU PEREMPUAN : (MELETAKKAN SUSU DAN LANGSUNG BERANJAK PERGI)
NENEK : Eh, mau kemana?
CUCU PEREMPUAN : Melihat pengemis itu. Dia pasti lapar dan haus.
NENEK : Mengapa tidak membawa ini? (MENUNJUKKAN GELAS SUSU YANG DIPEGANGNYA)
CUCU PEREMPUAN  : Bagaimana sih, tapi nenek yang mau meminumnya!
NENEK : Tidak jadi. Nanti kau sangka aku ini kejam dan tidak peduli pada penderitaan orang lain. Padahal, aku hanya membenci cara pengemis itu mendapatkan makanan. Tidak wajar kalau dia membawa-bawa Tuhan mengemis. Keterlaluan! (MENYODORKAN SUSU)
CUCU PEREMPUAN : Baiklah. Nenekku memang perempuan sejati. Dunia pasti bangga pada nenek. (MENGAMBIL SUSU DAN PERGI MEMBUKA PINTU)
ANAK KECIL : Nenek? Susu? Nenek? Susu? Nenek? Susu? Susu nenek??? Bingung aku jadinya!
SUARA PINTU DIBUKA. NENEK MENYISIR KEMBALI. TAK BERAPA LAMA KEMUDIAN, CUCU PEREMPUAN KEMBALI DENGAN WAJAH KECEWA.
NENEK : Loh, kenapa dibawa lagi? Apa kubilang, pengemis itu terlalu licik. Memanfaatkan kelemahan hati perempuan untuk memelas.
CUCU PEREMPUAN  : Ini gara-gara nenek, terlalu lama mikir! (MELETAKKAN GELAS SUSU ITU DI MEJA)
NENEK : Apa? Siapa yang lama mikir?
CUCU PEREMPUAN : Tidak. Aku tidak bilang apa-apa. Nenek mungkin salah dengar.
NENEK : Eee…. Jadi maksudmu aku tuli?
ANAK KECIL : Nenek! Cucu! Enggak pernah akur! Enggak pernah akur!

ADEGAN II
SIANG KEMBALI LENGANG, TERDENGAR NENEK MENEMBANG. ANAK KECIL MASIH BERMAIN SENDIRI. DESAU ANGIN BERHEMBUS DI JENDELA, DAUN-DAUN JENDELA ITU BERGOYANG DAN MEMUNCULKAN SESOSOK WAJAH.
NENEK : Astaga! Dasar pengemis! Kau ingin membunuhku ya! (TERKEJUT)
PENGEMIS : Mengapa tiba-tiba Nyonya takut dengan kematian? Sejak awal, Nyonya sudah menantikannya kan? Bukankah ini saat yang paling tepat.
NENEK : Eee… e..  Jadi kau serius mau membunuh aku? Demi Tuhan, kau bukan hanya pengemis, kau juga seorang pembunuh! Tolong… Tolong… Cucuku! Tolong aku! Ada pembunuh! (PANIK).
ANAK KECIL : Tolong… Tolong… (SAMBIL BERMAIN).
PENGEMIS : Tidak perlu berlebihan. Hamba bukan seorang pembunuh, apalagi membunuh seorang perempuan berhati lembut dan beriman seperti Nyonya.
NENEK : Lantas, mau apa? Mengintip itu tidak sopan! Lebih baik kau pergi sebelum aku berteriak lagi.
PENGEMIS : Selama ini hamba pikir, perempuan adalah makhluk yang sopan dan berbudi.
NENEK : Sopan itu relatif. Kau mengintipku begini, apa itu bisa dikatakan sopan?
PENGEMIS : Memperhatikan tingkah Nyonya, tentu bukan perbuatan asusila. Demi Tuhan, sedikitpun tidak terbersit nafsu di hati hamba untuk mencelakai Nyonya.
NENEK : Bahasamu sangat sarkastik! Kau adalah pengemis paling buruk yang pernah kukenal!
PENGEMIS : Mengapa Nyonya bisa berpikir sejauh itu? Hamba hanya mengutarakan perasaan hamba dan mengingatkan Nyonya dengan ucapan Nyonya sendiri. Sepengetahuan hamba, kebenaran itu wajib untuk disampaikan.
NENEK : Kebenaran apa yang kau maksudkan? Kalau kau mau berbicara tentang Tuhan dan mangkuk sedekahmu itu, lebih baik kau pulang saja. Aku sudah bosan mendengar puji-pujianmu.
PENGEMIS : Nyonya benar-benar melukai hati hamba. Seandainya Nyonya bisa memilih kata yang baik, serupa wajah Nyonya yang cantik, tentu hamba tak akan tersinggung.
NENEK : Cantik? Kau jangan main-main dengan ucapanmu. Bagaimana  mungkin perempuan peot sepertiku kau bilang cantik. Coba kucek matamu, jangan-jangan ada kotoran disana.
PENGEMIS : Benar, hamba tidak berbohong Nyonya. Sungguh, Nyonya masih terlihat cantik di usia lanjut, seperti ini.
NENEK : Cantik hanya membuat perempuan terlihat lemah, tahu? (BANGKIT DAN BERJALAN MENUJU JENDELA)
PENGEMIS : (MENGGELENG) Maafkan hamba, Nyonya. Sungguh hamba tak mengerti apa yang Nyonya maksudkan.
NENEK : Apa yang kau lihat dari perempuan selain kecantikannya! Kau pikir perempuan bisa hidup hanya dengan modal kecantikan! Jangan bodoh!
PENGEMIS : Tentu saja. Apa Nyonya sudah lupa, bagaimana Nyonya menaklukkan si Belanda itu?
NENEK  : Tidak. Itu hanya masa lalu. Tidak akan terjadi lagi. Tidak akan terjadi lagi!
PENGEMIS : Mengapa Nyonya takut dengan kecantikan? Mengapa Nyonya tidak bisa menerima pengakuan hamba? Hamba ingin mengatakan Nyonya cantik, bukankah seharusnya Nyonya tersanjung, bahagia atau tersipu malu. Maaf sebelumnya, tapi Nyonya tak perlu khawatir, karena hamba memuji Nyonya tanpa maksud apapun.
NENEK  : Dugaanmu salah. Aku bukan perempuan lemah. Perempuan tidak seharusnya direndahkan dengan pujian semacam itu. Pujianmu, seperti pujian seorang mandor yang tiba-tiba merasa lapar pada gadis-gadis pemetik teh.
PENGEMIS : Mereka dibayar untuk melakukan itu. Mereka melakukannya dengan kerelaan hati. Tidak ada yang mengeluh, Nyonya. Bukankah itu pertanda mereka menikmatinya?
NENEK : Kebobrokan moral telah ditanamkan di kepala gadis-gadis itu. Dia tidak bisa melawan, menolak, bahkan untuk menangis sekalipun. Mulutnya telah dibungkam dengan ketakutan, sistem memelintir hak-haknya, membisukan mulutnya dan membutakan matanya.
PENGEMIS : Mengapa dia tidak melawan, Nyonya? Bukankah kesadaran telah terkumpul sepenuhnya?
NENEK : Saat itu, dia merasa perlawanan hanya akan membinasakannya.Seorang perempuan tak ubahnya seperti sapi. Ya, sapi yang  bekerja membajak sawah, beranak, dan diperah susunya. Apa? Hahaha… Bukan. Maksudku bukan susuku diperah seperti sapi! Kau ini, pintar sekali mencari kesalahan orang lain! Ya, maksudku kalau kau menganalogikan kehidupan gadis-gadis di zamanku, tentu kau seolah melihat seekor sapi yang dipakaikan kebaya. Hei, aku sudah lama hidup dari pada kau? Memangnya berapa usiamu? Ah, belum seberapa dibanding aku. Kau tahu, aku pernah mengalami nasib yang lebih buruk dari sapi. Tapi itu sudah lama! Sudah lama sekali… (MERENUNG)
CUCU PEREMPUAN : Nek, mandilah. Air hangatnya telah kusiapkan (BERTERIAK DARI DALAM RUMAH)
NENEK : Aku sedang bercerita. Kau ini, mengganggu saja!(MENGGERUTU)
CUCU PEREMPUAN : Bercerita dengan siapa, Nek? (MENGHAMPIRI NENEK DAN MEMBAWAKAN NAMPAN UNTUK MENGUTIP GELAS KOTOR) Mandilah segera. Hari semakin sore.
NENEK : Bercerita dengan siapa? Tentu aku bercerita dengan… (MENOLEH KE JENDELA, TIDAK ADA SIAPA-SIAPA DISANA) Dengan? Dengan, siapa ya aku bercerita? Sudahlah, aku mau mandi dulu.
CUCU PEREMPUAN : Nenek perlu kutemani atau mandi sendiri? (MENCOLEK PINGGUL NENEK)
NENEK : Tidak usah. (MASUK KE DALAM DENGAN TERTATIH)


ADEGAN III
LAMPU DINYALAKAN. LANGIT BERTAMBAH GELAP. CUCU PEREMPUAN TELAH MENYIAPKAN MAKAN MALAM DAN MENGAJAK NENEK UNTUK DUDUK MENIKMATI HIDANGAN BERDUA.
CUCU PEREMPUAN : Bagaimana masakanku, Nek? Enak tidak?
NENEK : Lumayan. Tapi kau terlalu lama merebus kentangnya. Lihatlah bentuknya lunak dan gampang hancur. Ah, aku jadi teringat diriku sendiri kalau melihat tekstur kentang ini.
CUCU PEREMPUAN  : Nenek tidak boleh bicara seperti itu ya. Nenekku masih cantik kok. Semua orang mengakuinya.
NENEK : Cukup. Jangan pernah memujiku lagi. Kau tidak mengerti bagaimana aku tersiksa setiap kali kau mengatakan nenekmu yang renta ini cantik. (MENGHENTIKAN MAKAN)
CUCU PEREMPUAN : Cantik itu anugerah, Nek. Perempuan beruntung diberi   kecantikan. Lagipula cantik itu indah. Tidak salah, kalau sekarang ini orang berlomba-lomba mengubah dirinya menjadi cantik.
NENEK : Kau tidak sadar, betapa laki-laki telah mengeksploitasi kalian demi disebut 'cantik'. Dasar. Zaman sudah edan! Edan!
ANAK KECIL : Siapa yang edan? (MUNCUL TIBA-TIBA)
NENEK : Zaman!
ANAK KECIL : Oh, zaman… (BERMAIN KEMBALI)
CUCU PEREMPUAN : Tidak Nek, tidak ada pihak yang dieksploitasi jika perempuan memiliki kesadaran. Perempuan di zaman sekarang dan dulu berbeda, Nek. Jelas berbeda.
NENEK : Perbedaan berlaku hanya untuk mereka yang beruntung. Bagaimana pula dengan gadis-gadis yang terpaksa putus sekolah? Remaja putri yang mengalami kekerasan seksual karena kawin muda, atau pelecehan pada anak-anak? Perbedaan apa yang kau maksud, cucuku? Malah kudengar, hukum sudah menjelma jadi rimba yang brutal. Sungguh, perempuan selalu menjadi objek yang teraniaya. Tidak ada yang berubah, cucuku. Sampai kapan pun akan tetap begitu.
CUCU PEREMPUAN : Karena itu, sebagai perempuan yang beruntung, kita bertanggungjawab untuk membantu mereka. Belum terlambat, Nek. (MEMANDANG LURUS KE DEPAN) Hm… kalau besok nenek ada kesempatan, tontonlah televisi. Besok aku dan lembaga perempuan ada talkshow langsung di stasiun tivi.
ANAK KECIL : Itu juga kalau listrik tidak mati!
NENEK : Acara apa? Masih adakah acara seperti itu di tivi? Bukannya sekarang lebih banyak sinetron dan investigasi pembunuhan? Hhh… kadang itu juga yang membuatku malas menyalakan televisi.
CUCU PEREMPUAN  : Nenek tahu tidak, kami sedang memperjuangkan hak-hak perempuan di desa kita. Kami akan demo, orasi dan melakukan advokasi kemana-mana. Perempuan harus sadar hak-haknya. Perempuan tidak boleh kalah. Perempuan bisa menjadi hebat kalau mereka mau menggali potensinya lebih dalam.
NENEK : Baguslah, aku senang melihat kau bersemangat seperti ini. Tapi biasanya semangat anak-anak muda sepertimu ini sebentar saja. Besok, kau akan merengek-rengek lagi pada pacarmu, minta diantar-jemput, atau kau akan menangis-nangis lagi bila pacarmu terlambat menelpon. Hahaha Sama saja!
CUCU PEREMPUAN : Berjuang demi perempuan, bukan berarti menghindari lelaki, Nek. Perempuan dan laki-laki tercipta untuk saling melindungi. Apalagi kalau sudah saling cinta. Tidak masalah, kan Nek? Nenek pasti dulu juga begitu kepada kakek? Ya kan? Mengaku sajalah, Nek.
NENEK : Baiklah-baiklah… Kau lebih  pintar dari aku. Ngomong-ngomong, aku letih sekali hari ini. Aku tidur duluan. (PERGI KE KAMAR. LAMPU PADAM.)

ADEGAN IV
LAMPU MENYALA KEMBALI. SUASANA PAGI HARI YANG CERAH-CERIA. NENEK TERLIHAT DUDUK DI KURSI DEKAT JENDELA SEPERTI BIASA. SEORANG ANAK KECIL BERMAIN-MAIN DI SUDUT RUANGAN. CUCU PEREMPUAN TERLIHAT RAPI.
CUCU PEREMPUAN : (MENYALAMI TANGAN NENEK) Aku berangkat, Nek.
NENEK : Jangan pulang terlalu malam. Tidak baik dilihat tetangga.
CUCU PEREMPUAN : Tidak bisa, Nek. Acaranya dimulai pukul 21.00 wib.
NENEK : Ya sudah. Pokoknya selesai acara, jangan kemana-mana lagi. Langsung pulang. Kalau terlalu larut, minta antarkan temanmu saja. Hati-hati di jalan. Sekarang banyak perampok, pencopet, penculik, penipu, semua ada dimana-mana. Jaga dirimu baik-baik! (MEMASANGKAN SATU KANCING LAGI YANG TERBUKA DI LEHER KEMEJA CUCU PEREMPUAN) Kunci saja pintunya dari luar. Aku malas membukakan pintu, kalau-kalau ada tetangga mengajak bergosip.
CUCU PEREMPUAN : Baik. Aku pergi dulu, Nek. (BERANJAK PERGI)
TERDENGAR SUARA PINTU DITUTUP DAN DIKUNCI.
NENEK : Selalu begini. Hidup sendiri, mati pun nanti sendiri. (MENYISIR RAMBUTNYA SAMBIL MENATAP JENDELA) Aku, aku seperti mengenali wajah itu.
PENGEMIS : Selamat pagi, Nyonya.
NENEK : Ah, kau pengemis kemarin, bukan? Hampir saja aku terkejut lagi! Dari mana saja kau? Mengapa pagi-pagi sudah datang kemari? (BANGKIT SEBENTAR, NAMUN KARENA PINGGANGNYA SAKIT, NENEK DUDUK KEMBALI)
PENGEMIS : Hamba tidak perlu dikhawatirkan, Nyonya. Kesehatan Nyonya lebih penting. Di perjalanan menuju kemari, hamba melihat cucu Nyonya pergi buru-buru sekali.
NENEK : Ya. Dia memang sering bepergian. Sejak dia di wisuda, kegiatannya semakin banyak. Tapi biarlah, ini semua demi kebaikannya. Dia harus bisa mengimbangi zaman. Zaman sudah berubah. Perempuan harus maju, harus pintar, supaya kalau menikah nanti, dia bisa mendidik anak-anaknya jadi generasi cerdas.
PENGEMIS : Lihatlah, Nyonya dan pendapat Nyonya telah banyak berubah.  Benarkah menjadi perempuan cerdas akan mendapat nasib yang beruntung, Nyonya? Karena kenyataannya negara ini dipimpin oleh lelaki juga.
NENEK : Kecerdasan perempuan serupa sumber cahaya yang terang. Mengapa kau masih meragukan itu?
PENGEMIS : Karena cahaya hanya dibutuhkan ketika kita merasa gelap.
NENEK : Oh, tidak! Perempuan itu melihat seberkas cahaya putih yang mengintip dari lubang jendela.
PENGEMIS : Jangan biarkan cahaya menusuk mata perempuan itu. Dia akan melihat hal-hal yang tak pernah dilihatnya sebelumnya. Dia akan gamang dan kehilangan keseimbangan. Jangan!
NENEK : Biarkan! Cahaya itu yang akan menentramkannya. Mereka tidak akan ketakutan lagi seperti gadis-gadis pemetik teh yang ditarik paksa ikatan kainnya. Gadis-gadis gemetaran, seperti gemerisik daun-daun teh yang tiba-tiba bergoyang rusuh. Suara gumaman dan tangisan lirih yang berganti dengan senyum puas mandor-mandor jahannam itu! SETAN!!! (BANGKIT, MENYANGGUL RAMBUT PANJANGNYA DAN MEMUKUL-MUKUL DINDING)
PENGEMIS : Lalu perempuan itu hanya bisa menangis? Menangis tidak menyelesaikan masalah.
NENEK : Tidak. Dia bahkan tidak berani untuk menangis. Malam demi malam dia menanam benci. Hari demi hari, dia menabung dendam.
PENGEMIS : Dia marah dengan nasib buruk yang menimpanya? Apakah dia menyalahkan Tuhan yang menjadikannya seorang makhluk lemah yang dinamakan perempuan?
NENEK : Dia tidak menyalahkan Tuhan, tapi dia murka, darahnya mendidih. Tidak, dia tidak lemah. Hanya saja betisnya masih terlalu muda untuk menendang kezaliman. Tungkai kakinya terlalu pendek untuk menghantam kekurangajaran.
PENGEMIS : Nasib yang sama juga dialami makhluk sepertinya. Duhai gadis-gadis dengan betis muda yang ramping dan kepangan di kedua belah bahunya yang mungil. Janda-janda yang ditinggal mati suami, atau istri-istri yang suaminya tak bisa berkata apa-apa sebagai kuli kontrak.
NENEK : Putaran purnama menggenapi usianya. 14 tahun, masih. Seorang  Belanda tampan yang biru warna biji matanya, mengambilnya sebagai seorang Nyai! Gundik! Bukan istri!
PENGEMIS : Apakah dia bahagia? Apakah dia menemukan cahaya yang diintipnya dari balik jendela?
NENEK : Tidak, dia tidak bahagia. Tapi dia puas. Belanda itu  mengajarkannya membuka jendela besi yang dulu tak tersentuh karatnya. Perlahan-lahan sekali. Dia mengenal huruf dan angka. Dia membaca! Dia membaca! (MENGETUK-NGETUKKAN SISIRNYA KE JENDELA)
PENGEMIS : Belanda itu membimbingnya? Dia menemukan jalan kebenaran  dan membalas dendam pada mandor-mandor yang telah mempermainkan hidupnya?
NENEK : Bukan dendam, tapi nyala neraka yang terus saja membara. Dia membalaskan kesumatnya pada mandor-mandor itu. Mereka lenyap satu-satu, walau tak lama digantikan dengan mandor-mandor baru yang juga senang begitu.
PENGEMIS  : …dan cerita selesai?
NENEK : Belum! Karena sejak orang-orang berkaki pendek dan bermata sipit mengambil alih kekuasaan dan menumpas habis Belanda dari tanah Indonesia, suaminya tiba-tiba menghilang. Inlandeer membuangnya dan demi memulihkan harga dirinya dia terpaksa pergi ke negeri yang tak pernah dikenalnya untuk mencari peruntungan.
PENGEMIS : Benar-benar dia berada dalam kesulitan! Kasihan sekali. Lantas, bagaimana dia kembali pada keluarga dan kampung halaman?
NENEK : Mudah sekali. Karena tanah-airnya tak pernah mendendam, apalagi kesumat. Disana, mulut-mulut lapar telah disumpal dengan uang. Mata telah dibutakan dengan kemilau kursi jabatan dan telinga-telinga kecil, sengaja ditulikan dengan recehan.
PENGEMIS : Mengapa dia kembali pada suatu negeri yang tidak berpendirian teguh? Yang bisa tuli, buta dan membisukan diri pada ketidakadilan?
NENEK : Karena masih banyak perempuan yang menangis diam-diam di balik bantalnya. Masih banyak yang dibuka paksa kainnya, dibutakan matanya, dan tidak boleh membuka jendela. Jendela itu dikerangkeng dengan adat dan politik. Leluhur dan nenek moyang adalah saksinya.
PENGEMIS : Hamba harap, Nyonya tidak bersungguh-sungguh ingin membuka jendela itu.
NENEK : Mengapa takut pada kebenaran? Mengapa takut melihat kebangkitan peradaban. Sikapmu adalah bentuk dari ketidaksiapan. Bentuk yang lebih tirani dari tirani. Keterkungkungan dan kebodohan yang diciptakan demi kepentingan sekelompok orang. Perempuan bukan budak syahwat dan periuk nasi! Perempuan bukan tangkai sapu atau sapi perah. Mereka berhak dicurahi ilmu, didengar pendapatnya dan dibebaskan geraknya.
PENGEMIS : Jangan katakan kalau Nyonya ingin membuka jendela, Nyonya bisa dianggap sesat. Nyonya bisa dimata-matai dan dilenyapkan seperti Marsinah.
NENEK : Kuno! Pikiranmu picik dan terbelakang! Sekarang bukan lagi  zaman membicarakan emansipasi. Pergerakan sudah dirintis, aku hanya ingin gerak itu tetap ada. Gerak itu, seperti jemari yang berusaha membuka jendela.
PENGEMIS : Tapi jendela itu sudah terbuka lebar.
NENEK : Aku hanya ingin perempuan menatap jendelanya dengan kedua matanya. Biarkan cahaya ilmu merasuk hingga ke sumsum tulang-tulangnya, berurat dalam darahnya, dan menjadi sumber hidupnya. Dia harus rakus. Buru! Buru cahaya itu. (BERTERIAK-TERIAK GANAS)
ANAK KECIL YANG SEDANG BERMAIN, TIBA-TIBA BERUBAH SEPERTI SEEKOR MACAN LAPAR. DIA MERANGKAK LIAR KESANA-KEMARI DAN BERPUTAR DALAM LINGKARANNYA SENDIRI, MENCOBA TEMUKAN CAHAYA.
PENGEMIS : Nyonya, wajah anda terlihat pucat. Jangan katakan kalau Nyonya takut. Seseorang telah mendengar pembicaraan kita dan melaporkan pada rezim penguasa. Nyonya, kita akan ditangkap. Kita akan dilenyapkan.
NENEK : Jangan takut. Kita akan baik-baik saja. (TERDUDUK)
PENGEMIS : Tubuh Nyonya berguncang. Lihatlah, kaki Nyonya gemetaran. Nyonya yakin? Hamba sangat khawatir.
JENDELA MENJADI SURAM. GERAK PENGEMIS MENJADI KAKU DAN MENGABUR. ANAK KECIL LINDAP DIANTARA KEGELAPAN. LAMPU MEREDUP, HAMPIR GELAP TOTAL. TERDENGAR PINTU DIGEDOR BANYAK ORANG DAN SUARA KEGADUHAN DARI LUAR. MEREKA MEMANGGIL SI NENEK DENGAN SUARA KERAS. NENEK TERDIAM, BADANNYA MENDINGIN.
NENEK : (MENATAP SEKELILING) Waktunya telah tiba. Kematian itu akan segera datang. Kehidupan berganti dengan kelahiran yang baru.


SUARA GADUH MEMBAHANA LEBIH KERAS LAGI, GEDORAN PINTU LEBIH KUAT LAGI HINGGA TAK SETITIKPUN CAHAYA TAMPAK. SEORANG ANAK KECIL YANG MENJELMA SEPERTI SINGA, MENYALAKAN LENTERA. DIA MERAYAP HINGGA MENEMBUS JENDELA. JENDELA YANG SULIT SEKALI DITEMBUS DENGAN KEDUA KAKINYA. DIA BERUSAHA SEKUAT TENAGA UNTUK MENEMBUS JENDELA ITU. HINGGA AKHIRNYA, SEBUAH LEDAKAN CAHAYA MENGHAMBUR, MENERPANYA, KUYUP. DIA BENGKIT DENGAN TUBUH BUGAR. LANGKAH-LANGKAH TEGAPNYA MENGISYARATKAN KEMERDEKAAN DAN JAWABAN ATAS PERJUANGAN. LAMPU MENYALA TERANG. DENGAN MENENTENG SEBUAH LENTERA, DIA MAJU KE DEPAN.
Anak kecil : Kita telah memasuki zaman yang baru, semangat yang baru, jiwa yang baru! Maka biarkanlah jendela itu selalu terbuka!

-SELESAI-

www.kinamariz.com
Kala Sumatera 2011, diriku sebelah kanan, berjilbab Pink dan kacamata

1 comment

  1. Silahkan untuk berkomentar, namun ingat ya link hidup tidak diperkenankan diletak sembarangan di sini. Insya Allah saya siap kok blog walking tanpa harus nempel-nempel backlink. Ok. Thanks

    ReplyDelete

Mohon tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar. Terima kasih.

Literasi Digital