Grow Happy Parenting, Kiat Sukses Pengasuhan Anak di Era Millenial

www.kinamariz.com
Grow Happy
#SakinahMenulis-Jika ditanya soal momen masa kecil, semua orang pasti akan mengenang bagaimana dia diperlakukan. Bukan hanya saat suka, namun juga duka. Para ahli berpendapat, kenangan baik dan hal-hal menyenangkan yang didapati saat kecil ini yang ternyata membentuk kepribadiannya menuju dewasa. Saat bertumbuh dan berkembang ini tentu saja membutuhkan figur atau sosok yang paling sentral dalam keluarga, siapa lagi kalau bukan Orangtua?

Cerita soal momen masa kecil, hal paling membekas buat saya adalah kebersamaan bersama almarhum Bapak. Saking dekat dan eratnya hubungan Bapak dengan saya sebagai putri pertamanya, Emak bercerita bahwa kata pertama yang saya ucapkan saat fase Bubling adalah Bapak. Saya masih ingat kalau dulu, saya bersama Bapak dan Emak, serta tiga adik saya sering bermain kebun binatang. Dimana Bapak saya jadi Singa si Raja Hutan, Emak jadi Peri Hutan, dan kami jadi ayam, bebek, kambing, tupai, dan gajah. Sekali dia mengaum, kami harus berkumpul. Namun jika tiga kali mengaum, kami harus kabur karena itu pertanda si Singa lapar. Kami harus sembunyi meminta pertolongan Peri Hutan dan berlari berhambur ke segala penjuru rumah. Saya masih ingat bagaimana seru dan meriahnya permainan itu, sampai-sampai saya pernah menggendong adik saya yang baru berusia 1 tahun bersembunyi di dalam ember cucian di kamar mandi. Persembunyian saya ketahuan, adik saya (Icha) yang saat itu baru pandai berdiri menjerit-jerit saat Sang Singa datang mendekati lokasi sembunyi kami. Padahal nyaris saja kami menang. Lucunya, saat permainan usai, setiap melihat ember cucian itu adik saya yang bayi ini selalu meloncat-loncat kegirangan. Seolah dia ingat bahwa ember itu tempat bermain.

Kenangan yang erat melekat tentang Bapak saya ini adalah tipenya ekstrovert yang humoris, mudah bergaul, hobi membaca, mendongeng, bernyanyi dan pandai bermain alat musik (semua orang di rumah saya bisa bermain alat musik kecuali saya T,T). Bapak ini pengusaha handal, dia banyak mengajarkan saya tentang bisnis dan mengelola keuangan. Dia tipe penyabar, sangat menyayangi keluarga, namun bisa sangat tegas dan disiplin soal menegakkan aturan di rumah. Sedangkan Emak saya tipe introvert yang lebih pendiam dibanding Bapak. Emak ini ahlinya mengorek informasi, mungkin karena profesinya guru. Emak sangat fasih berbahasa Inggris dan gemar belajar bahasa asing bersama Bapak, ini juga yang membuat saya kagum dengan keduanya. Emak jagonya memasak, beberes rumah dan suka belanja. Ya namanya juga perempuan. Namun yang paling saya sukai, setiap berbelanja Emak saya selalu menyisihkan sesuatu buat diberikannya pada orang lain. Sejak kecil, Emak selalu mengatakan bahwa tak semua orang bisa hidup seberuntung kami. Karenanya saya harus banyak bersyukur dan berbagi.

www.kinamariz.com
Grow Happy
Kenangan baik yang terbentuk sejak kecil ini ternyata berdampak pada saya hingga dewasa dan menikah. Beberapa waktu lalu, saya mendapat pengetahuan baru di Parenting Workshop bersama Nestlé LACTOGROW Grow Happy di Bel Mondo Restaurant, Jl Teuku Daud No.9 Madras Hulu, Kota Medan, Rabu (14/11/2018). Dengan menghadirkan 3 pakar dari masing-masing bidangnya, yaitu Psikolog, Dokter Spesialis Anak, dan Brand Executive Nestlé LACTOGROW, saya kembali belajar tentang Pola Asuh Orangtua dan Pengaruhnya Terhadap Tumbuh Kembang Anak.

Psikolog Elizabeth Santosa M.Psi, Psi, SFP, ACC membukanya dengan pertanyaan, "Apakah Ibu hadir atau terlibat dalam proses pengasuhan anak?". Pertanyaan ini cukup mendasar mengingat 'hadir' dan 'terlibat' adalah dua kata yang berbeda penerapannya. Psikolog yang lebih akrab disapa Ma'am Lizzy ini menuturkan bahwa kebahagiaan saat masa kanak-kanak telah diakui sebagai sumber faktor paling berpegaruh terhadap kebahagiaan saat dewasa jika dibandingkan dengan sumber kebahagiaan lain seperti keberhasilan akademik, jabatan, pekerjaan, dan kekayaan. 

"Banyak Orangtua yang berfikir karakteristik anak bahagia hanya melihat ekspresi ceria dan aktif bergerak saja. Padahal kegembiraan anak harusnya menjadi kondisi yang cukup bertahan sehingga dia bisa tetap happy dimanapun berada. Tidak sedikit anak ceria di rumah, namun kerap dibully di sekolahnya. Ada juga anak yang mood swing, cepat berubah-ubah dan susah berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Ini ada apa?," ujar Ma'am Lizzy membuka sesi Parenting Talknya.

Dijelaskannya, bahwa tantangan tumbuh bahagia (Grow Happy) ini bisa dilalui dengan membangun keterlibatan emosional antara Orangtua dan anak. Empat tipsnya diantaranya, bukan terfokus pada aktivitasnya tapi waktu bersama anak, tidak ada distraksi saat melakukan aktivitas bersama anak, melakukan eye-to-eye contact saat bersama anak, dan membuat anak merasa dirinya penting. "Bagaimana bisa kita mendukung kebahagiaan anak, jika kita sendiri tidak tahu bagaimana membahagiakan diri kita? Agar bisa mengenal dirinya sendiri, Orangtua perlu memahami sumber kebahagiaan dalam hidup baik itu positif maupun negatif, sehingga dapat mengajarkan anak bagaimana art kebahagiaan sesungguhnya," jelasnya.

Ma'am Lizzy pun membagi empat tips membantu Orantua membesarkan anak tumbuh bahagia yaitu :
1. Makanan dan nutrisi yang tepat waktu, bergizi. Orangtua bertanggung jawab terhadap pemenuhan gizi anak sehingga anak bisa makan tanpa pilih-pilih (picky eater), bisa terpenuhi kebutuhan nutrisi di tubuhnya dan tidak berlebihan. Keberhasilan pola makan ini berpengaruh pada kebahagiaan anak karena tidak ada anak yang bahagia saat tubuhnya tak sehat atau sakit.

2. Dukungan untuk Kompetensi Anak.Orangtua tak bisa memaksakan, namun mengarahkan. Libatkan pendapat dan perasaan anak saat mendukung kompetensinya karena setiap pribadi itu unik dan memiliki kelebihannya tersendiri. Buat anak bahagia menyalurkan bakatnya.

3. Jadwal Tidur Harus Tetap.
Jam tidur yang tak tentu bukan hanya bisa mengganggu kestabilan emosi namun juga kondisi fisiknya. Terlebih pada usia anak, jam tidur ini juga sangat mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhannya. Disiplinkan waktu tidur kepada anak untuk membantunya hidup sehat.

4. Cinta Tak Bersyarat
Setiap Orangtua pasti mengasihi dan menyayangi anaknya. Namun apakah selama ini kita hanya "Kasih" dia, atau "Sayang" dia? Menyayangi anak tidak selalu harus menurutkan kemauannya, karena anak-anak belum bisa memilih yang terbaik untuknya. Tugas Orangtualah menyortir pemberian itu, apakah memang benar diperlukan atau tidak.

5. Jadi Pribadi yang bahagia, sehingga bisa menularkan kebahagiaan tersebut ke anak dan keluarga. 
Happy mother raise happy kids. Yap. Dengan mengingat slogan ini ingat selalu bahwa anak adalah karunia yang harus dijaga. Jangan sampai karena sibuk mencari makna kebahagiaan, kita sampai lupa dengan kebahagiaan diri kita sendiri. "Ada istilah psikologi Resilient Children, dimana inilah kepribadian anak yang tidak mudah sedih, tidak mudah stress atau sakit. Mendapatkannya ya dengan pola asuh yang benar, intinya apa-apa harus dilakukan dengan bahagia," tandas Ma'am Lizzy.

Senada dengannya, Dokter Spesialis Anak dr Fatima Safira Alatas Ph.D Sp.A(K) menuturkan Orangtua harus tahu nutrisi seimbang untuk kelengkapan gizi anaknya. "Anak yang mengonsumsi makanan sehat akan memiliki saluran cerna sehat dan dapat menyerap nutrisi dengan baik. Saluran cerna anak bisa dijaga dengan 3 langkah, yaitu :
  • Konsumsi makan bernutrisi lengkap dan bervariasi. (Karena ternyata makanan yang bervariasi, menumbuhkan lingkungan bakteri baik di usus juga variatif)
  • Konsumsi probiotik (mikrobiota usus perlu dijaga keseimbangannya karena berdampak besar pada kesehatan dan keceriaan anak)
  • Olahraga secara teratur (membantu anak tumbuh kembang sesuai usianya)
Sementara itu Brand Executive Nestlé LACTOGROW Pramudita Sarastri menjelaskan, melalui kampanye Grow Happy diharapkan Orangtua bisa membangun kebahagiaan dirinya sendiri. Kemudian formulasikan dengan selarasnya nutrisi, stimulasi dan keterlibatan Orangtua sesuai kondisi masing-masing. "Kami berupaya membantu para Orangtua memberikan yang terbaik kepada anaknya. Ingat ini semua bermula dari pilihan Orangtua, dimana efek panjangnya akan berpengaruh kepada anak di masa depannya," tuturnya.

Sebagai susu pertumbuhan untuk anak usia 1 tahun ke atas, Lactogrow ini mengandung Lactobacillus reuteri, Asam Linoleat (Omega 6), Asam Linolenat (Omega 3), minyak ikan, 12 vitamin dan 7 mineral yang dikemas dalam varian plain, vanilla dan madu. Diformulasikan khusus di Nestlé Research Centre, Switzerland, membantu si kecil Grow Happy. Nah, sekian tips dari para ahli. Jadi sudah siapkah kita berbenah dan memilih yang terbaik untuk si buah hati? Mari sekarang juga dimulai.

(Ditulis oleh : Sakinah Annisa Mariz)


*Tulisan ini diperlombakan dalam Kampanye Grow Happy Story

4 comments

  1. Wow aku suka konsep parenting ortu mu kak pas masih kecil
    Bener2 parenting ideal, masing masing punya peranan yang pas...
    Juga membangun kenangan kenangan yang melekat, kayak yang pas adegan petak umpet ala kebun binatang hihihi...kompak..
    Anak anak jadi teringat kenangan tersebut indah ya, bisa membentuk kepribadian yang baik pula pas uda gedenya

    Btw aku setuju yang konsep kasih dan sayang
    Ga semua mua yang dipengenin anak dituruti ya, ibaratnya ortu mengarahkan supaya anak tau mana yang kebutuhan mana yang cuma sekedar keinginan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih kak Nita. Wah first comment nih. (#Gelar Karpet Merah) :)

      Iya kak, pengalaman diasuh ternyata balik lagi jadi pengalaman mengasuh ya kak.
      Betul kak, Kadang kita harus tega demi kebaikan anak. Jangan cuma menurutkan keinginannya demi dia gak rewel, tapi berikan tawaran. Jadi ajak diskusilah anaknya. Gitu sih kata Ma'am Lizzy. Moga bermanfaat ya kak.

      Delete
  2. Anak adalah titipan dari Allah Swt.Sebagai orang yang dititipi wajib bagi kita untuk menjaganya dengan baik agar kelak jadi manusia yang takwa pada Penciptanya.Jika anak sudah menjadi manusia yg takwa pada Penciptanya kita orang tua otomatis dapat bagian.Dihari tua kita tak akan terbuang di Panti Jompo apalagi di Jalanan. Pola asuh yang baik menghasilkan anak yang Qurrota'Ayyun. Thanks.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Wah dibaca sama Mamakeh. Terima kasih Emakku saying.

      Delete

Mohon tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar. Terima kasih.

Literasi Digital