Cinderella Syndrome: 3 Gadis Terperangkap di Labirin Pernikahan Fantasi


#SakinahMenulis-                          RESENSI BUKU
Judul     : Cinderella Syndrome
Penulis  : Leyla Hana
Tebal     : 240 hal
Ukuran  : 13,5 mm × 20,5 cm
Jenis     : Novel - Sastra Populer
Penerbit : Salsabila
ISBN      : 978-602-98544-2-8
Cetakan : I, Jakarta 2012

Cinderella Syndrome: 3 Gadis Terperangkap di Labirin Pernikahan Fantasi
"Sebagian besar perempuan terjebak pada perangkap psikologis bahwa mereka akan selamat dalam menjalani kehidupan ini, jika memiliki pelindung sejati bernama laki-laki," ujar Leyla Hana dalam prolog Cinderella Syndrome. Cinderella, adalah nama tokoh cerita negeri dongeng yang tersiksa oleh ibu dan saudari tirinya. Ibu dan Ayahnya meninggal, sementara dia harus bekerja keras melayani keluarga tirinya. Lalu di tengah-tengah penderitaan Cinderella, dia bertemu dengan Ibu peri yang membantunya bertemu dengan Pangeran Tampan. Dijemput dengan sepatu kaca, Cinderella pun akhirnya menikah dan hidup bahagia di kerajaaan selama-lamanya. Titik habis.

Kesempurnaan cinta dan kemapanan hidup yang dibayangkan tokoh Cinderella (mendapat suami tajir dan super tampan) ternyata bukan hanya di negeri dongeng. Karena ternyata, khayalan atau istilah populernya 'Halu' ini bisa jadi sebuah syndrome atau penyakit yang menyerang para wanita di usia dewasa. Saat merasa dirinya layak untuk dinikahi dan beban hidup semakin menghimpit, para wanita ini merasa bahwa pernikahan adalah satu-satunya cara untuk selamat. Tak perlu susah payah bekerja, toh sudah ketemu suami mapan, tampan pula! Cinderella Syndrome yang menyerang kaum hawa secara sporadis inipun harus dialami oleh Erika, Annisa dan Viola.

Novel bergenre Chiklit ini menceritakan kisah 3 orang perempuan di usia menikah. Mereka adalah Erika si Gadis Kantoran, Annisa si Guru TK, dan Viola si Gadis Penulis. Ketiga-tiganya sama sekali tidak bertemu, dan tidak punya hubungan apa-apa dalam cerita di novel ini. Namun lebih dari sekedar itu, ketiganya ternyata berada dalam fase yang sama yaitu krisis Cinderella Syndrome. Bedanya, masing-masing tokoh punya persepsi berbeda soal pernikahan. Erika misalnya, sangat membenci pernikahan kaena dia melihat kehidupan keluarganya hancur karena Ayah Kandungnya menikah lagi (berpoligami). Sementara Annisa, gadis sederhana, seorang guru TK bergaji 200ribu per bulan tak tahan hidup bersama keluarganya, ditambah lagi, setiap hari mendapat cercaan dari Ibunya sendiri. Terakhir Viola, gadis penulis yang banyak berkhayal tentang hidup ideal, terlebih dengan masalahnya yang susah menghafal rute jalan. Viola membutuhkan pendamping hidup yang membuat kehidupannya lebih baik.

Leyla Hana selaku penulis novel Cinderella Syndrome ini menghadirkan tema Marriageable ini dengan sangat realistis. Dari sisi tema, novel Chiklit bertema cinta dan pernikahan memang sudah menjamur. Akan tetapi, novel ini seolah memaparkan sudut pandang dengan tokoh yang betul-betul nyata. Seperti mengajak perempuan bercermin diri, "Benarkah menikah adalah solusi? Atau justru hanyalah jalan Fantasi?"

Menggunakan bahasa novel yang khas sastra populer, Leyla Hana (yang juga Blogger) menuliskan cerita dengan sangat apik dan mengalir. Meski tokohnya berganti-ganti antara Erika, Annisa dan Viola, namun ketiganya punya karakter dan idealisme yang kuat. Ciri antar tokoh tampak jelas dari setiap adegannya sehingga membuat pembaca deg-degan tak sabar menanti kelanjutan kisahnya. Kerennya, novel ini tak terlalu lebay atau mengharu-biru dengan cinta. Setiap konflik diselesaikan dengan alasan rasional yang sudah pasti menjadi keputusan logis di dunia nyata. Meski judulnya Cinderella Syndrome, ternyata novel ini tak menjanjikan ending semanis cinta Cinderella. Inilah yang menjadi daya tarik novelnya dan membuatnya seru untuk dibaca.

Bertolak dari pengalaman perempuan, sebagai penulis perempuan Leyla Hana cukup kuat menyelesaikan cerita ini. Di bagian awal-tengah-hingga akhir cerita seperti punya kesatuan dan sangat asyik. Pengalaman saya membaca novel ini, saya hanya butuh dua jam nonstop untuk melahap isi novel sekali duduk. Sangat cocok buat para travelller yang sedang bepergian dan butuh bacaan sepanjang perjalanan. Didesain dengn cover pink yang 'Girly', ternyata novel ini tak cuma cocok dibaca perempuan. Identitas keperempuanan yang cantik dengan caranya sendiri dan independen, itulah yang ingin ditonjolkan dalam novel ini.

Rilis di tahun 2012, novel ini tetap seru dibaca hingga kapanpun karena ternyata ideologi yang melekat di masyarakat tentang pernikahan tetap sama. Sepanjang pernikahan masih dijadikan solusi untuk lari dari permasalahan yang riil, Cinderella Syndrome akan selalu menyerang pikiran-pikiran yang rawan. Kekurangannya, pada beberapa bagian, penulis masih 'bermain aman' dalam memberikan konfliknya. Jika Anda termasuk pembaca yang mencintai genre drama dengan dendam kesumat berdarah-darah atau tragedi musuh bebuyutan hingga 7 turunan, novel ini tidak memuat unsur seperti itu. Tokoh protagonis dan antagonis ditampilkan secara dewasa dan intelektual. Mungkin karena sasaran pembacanya adalah dewasa muda.

Akhir kata, novel ini sangat bagus menjadi pengiburan bagi yang ingin atau tidak ingin menikah. Menikah itu bukan sehari dua hari, atau bukan kehidupan impian. Menikah itu soal,... ah sudahlah. Baca saja di novelnya, ya? Selamat membaca!

Ditulis oleh : Sakinah Annisa Mariz

4 comments

  1. Silahkan untuk berkomentar, namun ingat ya link hidup tidak diperkenankan diletak sembarangan di sini. Insya Allah saya siap kok blog walking tanpa harus nempel-nempel backlink. Ok. Thanks

    ReplyDelete
  2. ini buku wajib dibaca nih buat para wanita. recommended ya minn

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul superbbb babper dan bagus. Jamin deh sekali duduk langsung kepicut sama bukunya

      Delete
  3. Hai Mba Sakinah salam kenal ya. Saya Yeni Sovia atau Bunda Erysha. Sepertinya ini pertama kalinya saya berkunjung ke sini ya. Semoga kita bisa terus berteman ya Mba. Oh ya ngomong-ngomong penulis ceritanya mba Leyla Hana itu yang blogger itu bukan ya? Soalnya aku pernah juga ketemu pas event blogger ama beliau. Nggak nyangka beliau juga ternyata penulis buku solo juga. Masya Allah keren ��

    ReplyDelete

Mohon tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar. Terima kasih.

Literasi Digital