Jangan Tunggu Penyakit Kritis Datang, Proteksi Kesehatan Anda dengan Yang Terjamin


#SakinahMenulis-Benarkah kesehatan itu mahal? Ya, boleh dibilang begitu. Namun dalam kenyataannya, ternyata lebih mahal pengobatannya. Analoginya begini, jika untuk menjaga kesehatan organ pencernaan butuh mengonsumsi protein, buah, dan sayur (minimal) sekira Rp.50.000 per hari. Maka mengobati penyakit yang bersarang di perut seperti diare, tifus, asam lambung, atau bahkan kanker usus (minimal) bisa lebih dari Rp.300.000 per hari, itupun baru biaya rawat inap/opname. Belum lagi biaya obat, tindakan medis, visit dokter, dan lain-lainnya. Duh, pusing!

Hidup yang bugar, sehat, dan panjang umur menjadi impian ideal semua orang. Tak terkecuali saya dan keluarga. Betapa terkejutnya kami, pada pertengahan tahun 2013 lalu, Bapak saya divonis menderita kanker di saluran ginjalnya. Kanker yang baru disadari oleh Bapak saya setelah memasuki Stadium 4 dan ternyata cukup lama bersarang di tubuhnya. Kalau diingat-ingat, sangat sedikit dan jarang Bapak saya mengeluhkan sakit di bagian tertentu di tubuhnya. Selama sakit itu menyerang, Bapak saya tidak sama sekali menganggapnya sebagai penyakit. Dia masih merasa baik-baik saja dengan aktivitas merokoknya yang tak henti, serta jam tidur yang tak tentu. Hingga pada puncaknya, awal April 2013, Bapak saya merasa tubuhnya kaku. Rasa sakit menyerangnya di satu titik dan berdenyar begitu hebat. Atas usulan Emak, Bapak dirujuk ke Rumah Sakit Umum. Kala itu, dokter menyarankan agar dirawat inap dan tidak boleh pulang. Kami menurut saja, karena kondisi Bapak sedang sangat kesakitan. Tak lama berselang, dokter pun menjadwalkan operasi.
Bapakku Alm. Novrizal Alex
www.kinamariz.com
Saya masih ingat bagaimana ceria dan bugarnya sosok Bapak semasa hidupnya, sebelum penyakit itu menggerogoti dirinya sedikit demi sedikit hingga habis tak bersisa. Mei 2013, Bapak saya terbaring pasrah usai menjalani operasi pertamanya. Dia tampak berubah pucat dan pendiam. Namun ternyata, operasi ini saja belum selesai. Bapak saya harus menjalani Kemotherapy untuk sekian siklus, menjalani pengobatan serius seumur hidupnya, itupun tidak bisa sembuh bugar seperti sedia kala karena ada bagian tubuhnya yang telah dibuang dan hilang. Hancur sudah impian keluarga kami. Kami harus menghadapi kenyataan bahwa tulang punggung keluarga sudah dipastikan tidak bisa lagi bekerja mencari nafkah. Ini belum termasuk biaya pengobatan hingga Bapak pulih, atau biaya pendidikan kami (keempat anaknya yang masih sekolah semua). Sebagai anak pertama, saya yang saat itu masih semester 7 (baru menyelesaikan PPL, menuju Skripsi), pontang-panting. Selain menggantikan Ibu mengurus Bapak, saya sempat cari kerja serabutan buat bantu-bantu biaya kuliah dan ongkos ke rumah sakit.

Bulan dimana Kemotherapy menjadi makanan sel tubuh Bapak sehari-hari pun tiba. Seperti yang teman-teman ketahui bahwa Kemo tak hanya mematikan sel kanker, namun juga seluruh sel yang ada di tubuh Bapak. Rambutnya berguguran, kulitnya berkeriput dan badannya lemah. Setiap hari, usai di-Kemo, Bapak muntah-muntah hebat. Kejang-kejang, suhu badan panas dingin, mengerang, meraung, menggigil, bahkan pada klimaksnya, Bapak saya yang paling arif bijaksana itu pernah marah-marah (depresi) meski tak bertenaga. Dia berubah jadi seperti bukan dirinya lagi.

Tekanan yang diderita Bapak ternyata bukan hanya soal penyakit fisiknya, tapi juga mental dan mengguncang spriritualnya. Saat itulah Bapak saya jadi makin berubah. Dia berhenti berpikir akan sembuh. Dia hanya minta kepada Allah jika ingin diambilNya, mohon Allah selalu menjaga keluarganya. "Pak, kalau Bapak gak ada siapa nanti yang kasih makan kami?" ucap adik saya Icha yang paling kecil, kala itu dia baru saja masuk SMP. Namun dengan tegarnya Bapak saya menjawab, "Allah pasti kasih jalan keluar ya nak," jawabnya lirih. Jawaban dari Bapak saya ini terjawab pada Kamis, 26 September 2013 , pukul 04.55 WIB, Bapak menghembuskan nafas terakhirnya. Kesedihan menyelimuti keluarga kami untuk beberapa lama. Belakangan juga saya tahu, betapa pentingnya bagi keluarga untuk menyiapkan perencanaan finansial untuk hal-hal besar yang tak pernah kita duga.
Foto Bapakku. Baru kusadari betapa berharganya Dokumentasi.
www.kinamariz.com
PRUCritical Benefit 88, Proteksi Terjamin dan Uang Pasti Kembali
Semua dimulai dari pertanyaan ini!
www.kinamariz.com
Data WHO (World Health Organization) menunjukkan, 73% kematian di Indonesia terjadi karena Penyakit Tidak Menular (PTM). Sementara hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 oleh Kementerian Kesehatan menyebutkan prevalensi berbagai PTM (kanker, jantung, ginjal kronis, dan hipertensi, mengalami kenaikan. Senada dengan itu, ASEAN Cost in Oncologi (ACTION) dalam risetnya 2014-2015 memaparkan bahwa 50% pasien pengidap kanker mengalami kebangkrutan dan 29% meeninggal dunia.

dr Tri Adi Mylano, Sp. JP(K), FIHA à Siloam Hospital Dhirga Surya Medan mengatakan bahwa di kesibukan dan tuntutan pekerjaan menjadi tantangan dalam menerapkan pola hidup sehat. "PTM ini punya faktor resiko utama, diantaranya kebiasaan merokok, tidak olahraga rutin, kurang makan buah dan sayur, serta makan tidak teratur. Jadi usia muda bukan jaminan seseorang bisa terkena penyakit kritis," sebut dokter senior ini.

Karena berbahayanya, dr Tri berharap masyarakat menaruh perhatian terhadap pencegahannya atau preventif, dibandingkan pengobatannya atau kuratif. "Lebih baik preventif daripada kuratif," sambungnya. Dia juga menjabarkan dampak dari penyakit kritis bukan hanya kematian dan kecacatan, namun beban keuangan berupa biaya rumah sakit dan biaya hidup juga bertambah.
dr Tri Adi Mylano, Sp. JP(K), FIHA à Siloam Hospital Dhirga Surya Medan
www.kinamariz.com
PTM sesuai namanya, semakin parah semakin banyak biaya. "Berjuang melawan penyakit kritis sangat menguras emosi serta fisik pasien dan keluarganya, serta dapat mengganggu perencanaan keuangan. Melalui PRUCritical Benefit 88, Prudential berharap dapat memberikan ketenangan pikiran pada nasabah dan keluarganya," ujar Managing Director Agency Business Development Prudential Indonesia, Rusli Chan, di sela-sela peluncuran PRUCritical Benefit 88 yang digelar di Gedung Selecta, Jalan Listrik, Kota Medan, pada Rabu (16/01/2019).

Rusli Chan menambahkan, dengan proteksi terjamin, Nasabah dapat memanfaatkan uang perlindungannya untuk membantu biaya pengobatan Rumah Sakit dan juga biaya hidup. Produk ini melengkapi portofolio solusi kesehatan dan proteksi Prudential karena terus melayani kebutuhan masyarakat yang terus berubah. "Kami percaya PRUCritical Benefit 88 dapat menjadi solusi bagi masyarakat Indonesia dalam mengantisipasi dan mengelola dampak keuangan yang ditimbulkan oleh penyakit kritis," paparnya.

Manager Stategic Product Management Prudential Indonesia, Sheila Widya Nanda
www.kinamariz.com
Sementara itu, Manager Stategic Product Management Prudential Indonesia, Sheila Widya Nanda, menawarkan beragam manfaat dari PRUCritical Benefit 88. Dengan Slogan Proteksi Terjamin, pihaknya menawarkan :
  • Perlindungan komprehensif untuk meninggal, atau 60 kondisi kritis tahap akhir, tahap periode masa bertahan hidup (survival period).
  • Sebanyak 10% Uang Pertanggungan untuk angioplasty tanpa mengurangi UP PRUCritical Benefit 88, dengan maksimal Rp.200.000.000,-
  • 200% tambahan UP akan dibayarkan jika tertanggung meninggal karena kecelakaan sebelum usia 70 tahun.
  • Perlindungan sampai dengan usia 88 tahun dengan jangka waktu pembayaran premi yang dapat dipilih yakni selama 5 tahun, 10 tahun, 15 tahun atau premi tunggal.

Prudential (Listening, Understanding, Delivering)
www.kinamariz.com

Sedangkan yang dimaksud Uang Pasti Kembali, adalah kondisi dimana :
  • 100% uang pertanggungan akan dibayarkan bila Tertanggung Utama masih hidup dan polis masih aktif sampai usia 88 tahun; atau
  • Jaminan manfaat 100% pengembalian premi pada tahun Polis ke-20. Jika nasabah memilih pengembalian premi, maka polis berakhir.
Prudential (Listening, Understanding, Delivering)
www.kinamariz.com
"Kehadiran PRUCritical Benefit 88 ini sejalan dengan komitmen brand baru Prudential yaitu Listening, Understanding, Delivering, serta fokus 'We Do Health'. Melalui komitmen baru in, kami berupa memberikan yang terbaik bagi nasabah," tegas Sheila. Ini info lengkapnya tentang produk PRUCritical Benefit 88

Namanya proteksi, tentu saja harus bisa melindungi dan memberikan rasa aman bagi penggunanya. Prudential plc (yang berkantor di Londo) , selama lebih dari 170 tahun telah melayani lebih dari 26 juta nasabah i seluruh dunia. Prudential Corporation Asia (PCA) yang telah beroperasi selama 95 tahun, telah membantu 15 juta nasabah di 12 pasar seluruh wilayah Asia, untuk mengejar mimpi dan minat mereka dengan menjaga hari-hari penting bagi mereka.


PRUCritical Benefit 88 di Medan
www.kinamariz.com
"Melindungi keluarganya, menjaga agar mereka tetap sehat, membangun tabungan dan kekayaan, serta membantu perencanaan keuangan untuk masa pensiun mereka," tandas Sheila sembari menginformasikan bahwa di Indonesia, Prudential telah beroperasi selama 23 tahun dan meayani lebih dari 2,3 juta nasabah melalui berbagai inovasi dan solusi agar mendapatkan perlindungan terbaik.

Foto Bersama Para Blogger di Peluncuran Prudential Critical Benefit 88
www.kinamariz.com

Ditulis oleh : Sakinah Annisa Mariz

25 comments

  1. Silahkan untuk berkomentar, namun ingat ya link hidup tidak diperkenankan diletak sembarangan di sini. Insya Allah saya siap kok blog walking tanpa harus nempel-nempel backlink. Ok. Thanks

    ReplyDelete
  2. Prudential always listening always understanding,penting bagi kita dikala muda untuk selalu aware dengan kesehatan, jadi apa salah nya kita untuk ikut asuransi jiwa untuk kehidupan yang lebih baik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar sekali, perlu kita untuk proteksi mulai dari jaga kesehatan hingga untuk jangka Panjang. Semoga terinspirasi. Oh ya, kini Prudential hadir dengan brand barunya yaitu Listening, Understanding, Delivering.

      Terima kasih ya sudah mampir, selamat membaca artikel lainnya.

      Delete
  3. Betul sekali! Ternyata sangat penting bagi kita menjaga kesehatan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Muda sebelum tua, sehat sebelum sakit. Kalau sudah sakit, tak ada yang bisa dinikmati ya. Salam sehat selalu.

      Delete
  4. seperti kata pepatah "sedia payung sebelum hujan" nah untuk menjaga hal hal yg tidak diinginkan akan kesehatan kita maka "sedia prudential sebelum sakit" 😍

    ReplyDelete
  5. Investasi kesehatan salah hal yg harus diperhitungkan di era sekarang ini. Terlebih lagi pergeseran penderita penyakit kronis seperti kanker, diabetes, gagal jantung tidaktidak memandang status sosial maupun ekonomi masyarakat yang kerap dihubungkan dengan lifestyle seseorang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yap, ternyata invenstasi bukan hanya dalam bentuk bisnis aja ya. Kesehatan yang Utama. Semoga kita sehat selalu ya

      Delete
  6. Sehat itu mahal, tindakan pencegahan lebih utama ketimbang mengobati. Sikap prudential (ke hati2 an) dalam hidup itu perlu, karena menyangkut pola hidup dan style kita loh guys. So, Do the best with your life, include your healthy, to get happiness. Go forward Miss Sakinah and Your Prudential

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thankyou so much. Being prudential, always stand by you.

      Delete
  7. Ooo...ini cerita lengkapnya yang kina bilang waktu itu ya ttg Ayah.


    Btw, emang udah wataknya orang Indonesia kali ya, lebih perhitungan untuk hal2 yang sifatnya antisipasi kesehatan dari pada yang sifatnya pengobatan. Semacam...ah, masih sehat kok...nanti-nanti aja lah itu.

    Kalau udah parah..hmm...disitulah pontang-panting ya kan...

    Mental kita yang begini yang perlu diedukasi :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hiks, hiks, kami dulu begitu kak. Pikirannya, alah masih sehat kok. Kepikiran buat awarenya baru datang kalua sudah terkena. Dan inilah jadinya. Betul itu kak, perlu edukasi terus dan terus. Salam sehat selalu ya kak

      Delete
  8. Benar sekali Sakinah..
    mencegah itu lebih baik daripada mengobati, akan tetapi masih banyak masyarakat yang belum mengetahui tentang masalah penyakit yang dideritanya sebagai salah satu contoh pasien dengan luka kaki diabetes yang datang ke praktik perawatan luka datang dengan kondisi luka sudah stadium 3 dan 4 dan kebanyakan dari mereka tidak tahu bahkan cenderung tidak peduli karena Apa yang dirasakan pada pasien tersebut dirasakan tidak terlalu berat
    Kesadaran merupakan masalah utama masyarakat Indonesia umumnya.terima kasih

    Ns. Muhammad Affan. S. Kep., CWCC., CHt. N

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih pak Affan, sudah mampir dan berbagi di sini. Jangankan masyarakat, saya sendiri juga baru tahu kalau pasien diabetes punya kemungkinan tidak diamputasi. Menarik sekali ini ulasannya pak. Mungkin di kesempatan lainnya boleh lah kita berbagi soal penanganan luka ttg pasien diabetes ini. Boleh lah bapak lampirkan kontak personnya, barangkali ada yang penasaran dan membutuhkan.

      Delete
    2. Ya, benar sekali pak Affan...
      Apalagi dengan masyarakat yg pengobatan awal lebih percaya dengan pengobatan alternatif. Keadaan bengkak sebelum d ketahui adanya luka sering d sangka bara atau guna-guna. Hingga akhirnya keadaan luka semakin parah, kemudian ke pengobatan medis dan berujung amputasi.
      Padahal setelah mengetahui bahwa perawatan luka modern dapat mencegah amputasi, tidak sedikit yg menyesal karena baru mengetahui bahwa luka yg d rawat secara modern sangat membantu sekali.selain tidak membutuhkan waktu lama utk pemulihannya klien juga tidak kehilangan anggota tubuh lainnya...

      Delete
  9. Wa/hp 085262956768
    Pusat Perawatan luka
    Asri Wound Care Centre medan.
    Jl. Suluh gg mahmud no 41.kel.sidorejo hilir. Kec. Medan tembung

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih informasinya. Sukses selalu. Semoga para penderita luka, (asal jangan luka di jiwa) bisa dirawat di sini :)

      Delete
  10. Bener bangets Kinah.... mksh atas infonya, jadi sadar akan pentingnga perlindungan diri

    ReplyDelete
  11. Sedia payung sebelum hujan!
    Seperti PRUcritical Benefit 88 sangat membantu keluarga Indonesia yang mempersiapkan proteksi dari penyakit2 kritis.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mbak. Mencegah lebih baik daripada mengobati ya mbak

      Delete
  12. udah sakit baru sibuk cari biaya.. itu berarti kamu di indonesia wkwk. prudential ini jadi solusi banget ya mbak sakinah, tkyu sharenya yaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama Bang/Kak. Semoga kita juga bisa mempersiapkan finansial dengan baik, jadi tidak keteteran ya Bang/Kak

      Delete
  13. Nah asuransi Prudential ini, aku pakai Asuransi Jiwa dan Asuransi 61 Penyakit kronis dari Prudential. Bagus banget. Next ambil kesehatan... Terima kasih infonya kak

    ReplyDelete

Mohon tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar. Terima kasih.

Literasi Digital