Pasar Tikung Medan, Pasar Wisata Pertama di Sumut


#SakinahMenulis-Berapa lama waktu yang Anda habiskan saat berburu oleh-oleh di Medan ataupun di provinsi Sumatera Utara? Kalau saya pribadi bisa berjam-jam, bahkan tak jarang seharian. Terlebih kota Medan sebagai kota terbesar ke-4 di Indonesia, sudah pasti, jika ada kerabat atau teman yang singgah ke Medan, kerap diserbu dengan pertanyaan, Oleh-olehnya mana?

Sebagai kota multietnis, Medan cukup kaya akan produk kerajinan dan kuliner yang legendaris. Contoh oleh-oleh kuliner di Medan seperti Bolu Meranti, Bika Ambon, Sirup Markisa (Sarang Tawon), Sirup Kurnia, Ucok Durian, Teri Medan, Ikan Salai, dan lain-lain. Produk kerajinan seperti kain ulos, kain songket melayu, sortali, dll. Namun untuk membeli beberapa jenis oleh-oleh ini, tak jarang kita harus pergi ke banyak lokasi untuk mendapatkan produk aslinya. Semisal, bolu-boluan ada di Jalan Mojopahit, kain-kain etnik ada di daerah Kesawan Lama, teri-teri dan cemilan ada di daerah Sambu, dll. Kabar baiknya, kini kita tak perlu menghabiskan banyak waktu untuk mencari oleh-oleh khas kota Medan. Jawabannya hanya 1 lokasi yaitu Pasar Tikung.

Pasar Titi Kuning (Tikung) merupakan pasar tradisional yang didesain modern dan futuristik. Berlokasi di Jalan Brigjend Zein Hamid, kawasan Titi Kuning Medan, pasar ini mengambil segmen pasar wisata. Konsep Pasar Wisata ini merupakan pertama kalinya di Medan. Pasalnya, pasar ini menyediakan semua kebutuhan untuk para wisatawan baik lokal maupun mancanegara, yang terpusat di satu tempat. Kebutuhan tersebut mulai dari kuliner, Oleh-oleh (Souvenir dan cinderamata), hingga Hiburan (Entertainment). Pastinya Anda semakin penasaran dengan apa saja yang menarik dari pasar Tikung ini, bukan? Berikut 5 fakta menarik tentang pasar Tikung!


1. Lokasi Strategis, Anti Nyasar
Buat yang sebelumnya pernah mendengar nama Pasar Inpres Titi Kuning, yap benar sekali. Pasar Tikung yang sekarang ini merupakan bentuk revitalisasi dari Pasar Inpres Tikung. Dikarenakan bangunan Pasar Inpres yang sudah tak layak (kayu lapuk dan terkesan kumuh), pasar ini kemudian ditata kelola ulang bersama pihak PD Pasar Pemerintah Kota Medan dan pihak Swasta. Berdiri di areal yang padat pemukiman seperti Johor, Kampung Baru, Titi Kuning, Deli Tua, Marindal, Tritura, Asrama Haji, Polonia, dan lain-lain, Pasar Tikung menjadi ikon khas tersendiri di Medan.


Di samping kawasannya yang ramai, akses menuju Pasar Tikung juga sangat mudah dicari dan strategis. Berada di jalur searah menuju Bandara (via Tritura ke Amplas) dan searah dengan kawasan wisata Berastagi (via AH Nasution ke Jamin Ginting). Kemudahan lainnya yaitu berdekatan dengan Underpass pertama di Medan, yaitu di persimpangan Zein Hamid dan Tritura. Dengan demikian, akses menuju pasar ini cukup banyak bagi siapa saja yang ingin singgah dan berbelanja, baik itu menggunakan transportasi umum seperti Angkutan Kota (Angkot), Becak Motor, Transportasi Online ataupun kendaraan Pribadi.



2. Puas Belanja Seperti ke Mall
Pasar tradisional identik dengan stereotipe bau, jorok, dan panas terpapar sinar matahari. Ketika mendengar kalimat, "Mau belanja ke Pasar" maka yang kita ingat adalah tempat yang seperti pasar pada umumnya. Namun sangat jauh berbeda dengan Pasar Tikung ini. Didesain elegan dengan Ram Putar Pertama di kota Medan, Pasar Tikung ini hadir dengan fasilitas keamanan seperti Parkiran Basement dengan pintu otomatis, Security dan CCTV, Alarm, Free Hydrant, 2 unit Lift, Genset, Tangga. Serta fasilitas lainnya seperti Atrium, Toilet sekelas Mall yang bersih, Musholla, Akses untuk Difabel, Mural dan Rooftop, serta space untuk Art Performance.


Pasar Tikung ini berdiri di atas lahan seluas 4.700m2 dan dibangun lima lantai dengan 3 zona usaha yang terbagi dalam beberapa blok. Sudah dapat dibayangkan besar dan luasnya Pasar Tikung, ya? Pembagian lantai bangunan juga diatur apik sehingga memanjakan pengunjungnya. Diantaranya;
  • Lantai Dasar (Basement) adalah lokasi parkiran yang dapat menampung 150 Mobil dan 200 Sepedamotor (di luar kapasitas Parkir halaman depan.
  • Lantai 1 (Pasar Tradisional) adalah lokasinya para pedagang pasar Inpres lama yang terdiri atas area basah dan area kering. (JIka ingin berbelanja sayur, ikan, dll bisa kesini), ada 389 kios yang dikelola oleh PD Pasar Pemko Medan.
  • Lantai 2 (Pasar Wisata) adalah lokasinya para pedagang pasar modern dimana pengunjung bisa mencari oleh-oleh di ratusan ruko. Di lantai 2 ini ada 183 unit kios mulai dari ukuran 2,2m x 2,5m, hingga 5m x 3,4m dengan perincian blok A berisi 32 unit, blok B 70 unit, blok C 70, dan blok D 11 unit.
  • Lantai 3 (Pasar Wisata) juga merupakan tempat belanja oleh-oleh. Disini tersedia 160 unit kios dengan ukuran mulai dari 2,2m x 2,5m, hingga 2m x 2m, dengan perincian blok A 50 unit, blok B 54 unit, blok C 56 unit.
  • Lantai 4 dan 5 adalah Rooftop yang difungsikan sebagai Food Market. Bernama Cabana Rooftop, lokasi ini diperuntukkan bagi pedagang kuliner dan tempat bermain anak. Didesain ciamik dengan luas sekitar 3000m2, nantinya Cabana dapat menampung ratusan stand dan panggung untuk Live Music.

3. Desain Gedung dan RAMP PUTAR Pertama di Medan
Pasar berlantai mungkin sudah biasa. Namun pasar dengan konsep Ramp Putar, ini pertama kalinya di Medan. Terlebih Ramp Putar ini memungkinkan para penyandang Difabel yang menggunakan kursi roda untuk berputar dan berkeliling pasar dengan nyaman. Tak sekedar Ramp Putar, sisi-sisinya juga dihiasi oleh mural dan gambar 3D yang membuat pengunjung bisa berswafoto (Selfie) di setiap sudutnya. Sementara untuk pengunjung lainnya yang ingin menggunakan lift atau menaiki tangga, juga cukup nyaman dan santai.


Menariknya, pasar wisata juga di depan Ramp Putar, menghadap ke luar, masih ada space untuk para pengunjung duduk santai sambil ngopi. Jadi tak hanya buat pengunjung yang ingin berbelanja saja, buat bersantai sambil menikmati suasana Pasar Tikung juga bisa ke sini.
Saya di Ramp Putar Pasar Tikung yang dalam progress pembangunan
www.kinamariz.com
4. Sensasi Rooftop di Cabana Food Market
Siapa sih yang tidak tergoda dengan ratusan stand makanan? Terlebih berada di Rooftop alias lantai teratas dengan sensasi sejuk dan iringan Live Music. Rasa lelah berburu Oleh-oleh pun terbayarkan dengan makan enak dan harga yang pas. Cabana ini didesain bersih, modern dan nyaman, sehingga para pengunjung bisa beristirahat usai belanja dan memanjakan lidahnya dengan berbagai pilihan menu makanan.



5. Penawaran Menarik
Gedung dan fasilitas lengkap, juga harus didukung oleh tersedianya pedagang dan barang dagang yang layak dan menarik. Karena itu, pihak pengelola memberikan 3 asas yang harus dipenuhi setiap pedagang di sini yaitu Okupansi, Kualitas, dan Harga. "Okupansi para pedagang yang kita harapkan bisa melebihi target saat ini, dengan produk-produk yang berkualitas (karena ada survey), dan harga juga kompetitif ya. Bukan harga Mall pokoknya, karena kita mau mengajak masyarakat untuk kembali hidupkan pasar. Tempat kita sediakan, pedagangnya kita cari, barangnya berkualitas dan harga bersaing, kemudian fasilitas kita isi. Sudah lengkap semua, tinggal menjemput antusiasme para wisatawan dan masyarakat saja ini," sebut Bidang Pemasaran Kios Pasar Tikung, Suwanto, pertengahan Januari 2019 ini.
Saya di Rooftop Pasar Tikung yang dalam progress pembangunan
www.kinamariz.com
Menuju Launchingnya di kisaran bulan April 2019 ini, Suwanto juga memberikan penawaran menarik dari pengelola Pasar Tikung. "Ada promo FREE SEWA SETAHUN khusus bagi para pedagang Pasar Wisata (Lantai 3) yang bahan dagangannya layak untuk di pasarkan di sini. Tentu saja setelah lebih dulu dicek dan disurvey oleh pengelola. Semakin cepat, semakin baik karena unit dan kesempatan terbatas," sambungnya, sembari membubuhkan nomor kontaknya, Suwanto (0812 6557 3330).


Ditulis oleh : Sakinah Annisa Mariz

3 comments

  1. Silahkan untuk berkomentar, namun ingat ya link hidup tidak diperkenankan diletak sembarangan di sini. Insya Allah saya siap kok blog walking tanpa harus nempel-nempel backlink. Ok. Thanks

    ReplyDelete
  2. wah ini bakal jadi pasar paling modern di kota Medan kayaknya

    ReplyDelete
  3. waah...saya baru ngeh kalau begini detail grand design-nya pajak tikung. keren yaa..Anak bungsu saya selalu suka kalau diajak ke sana. Nggak sabar nunggu jadinya.

    ReplyDelete

Mohon tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar. Terima kasih.

Literasi Digital