4 Tahun Indonesia Kreatif, Bangun Mental Positif Generasi Millenials

www.kinamariz.com
Flash Blogging Medan
#SakinahMenulis-Menjadi pemuda Indonesia di masa millenials ini mempunyai tantangan tersendiri. Lebih-lebih di zaman serba digital dimana Indonesia sebagai negara berkembang yang sedang mengalami bonus demografi. Tingginya angka penduduk di usia produktif ini membuat persaingan menjadi ketat. Tak cuma soal lapangan kerja, namun juga prestasi dan kreativitas. Setiap orang dituntut memiliki skill dan kemampuan bertahan untuk mendapatkan hidup yang layak dan kesempatan. Modalnya ada dua yakni, kreatif dan melek informasi teknologi.

Cerita soal dua tantangan era millenials ini saya punya pengalaman lucu. Sejak menikah, saya dan Emak membeli rumah berdekatan. Tujuan awalnya supaya lebih gampang bertukar kabar, manakala ada yang sakit atau bepergian, bisa saling menjaga. Namun pada kenyataannya, setelah masing-masing sibuk bekerja, kami malah jarang berjumpa. Menyikapi hal ini, suami saya punya ide agar dibuatkan grup Whatsapp (WA) khusus keluarga. Singkat cerita, jadilah grup itu berisi saya, suami, Emak, adik-adik dan beberapa sepupu. Sehari dua hari kami saling bertukar informasi di grup itu, semuanya berkomentar kecuali Emak saya. Seminggu kami sibuk berkicau, semuanya saling komentar dan berbalas, kecuali Emak saya. Iseng, saat berjumpa langsung, saya tanya ke Emak, mengapa tidak pernah aktif di grup. Ternyata jawaban polosnya bikin saya terbahak-bahak sampai sekarang yaitu "Mak lihat kalian semua pada sibuk 'sedang mengetik', jadi Mak tak mau ganggu dululah," balasnya. FYI, ketika kita mengetik pesan chat di WA akan tertulis 'sedang mengetik'. Emak saya yang tahu profesi kami kebanyakan penulis berpikir kalau kami sedang bekerja (mengetik) jadi tak mau mengganggu kesibukan kami. Namun heran juga Emak, mengapa di sela-sela bekerja (sedang mengetik), kami masih sempat 'Say hello dan Haha Hihi' di WA. Saya pun segera menjelaskan ke Emak bahwa sosial media punya caranya sendiri menunjukkan ekspresi penggunanya. Sejak peristiwa itu, Emak belajar banyak tentang sosial media dan malah kini bisa mengajarkan pada teman-teman seprofesi gurunya untuk bijak menggunakannya.


www.kinamariz.com
Flash Blogging Medan
Internet dan Peluang Digital
Dari generasi ke generasi, demikian tagline sebuah produk makanan. Saya pikir tagline ini bisa juga digunakan untuk menceritakan pembangunan Indonesia yang terus bertahap di segala lini. Sebagai generasi yang lahir di tahun 1990-an, saya merasakan perbedaan yang signifikan dengan generasi yang bertumbuh di zaman millenials. Salah satunya dunia internet dan pasar e-commerce yang makin dibanjiri anak-anak muda. Kalau dulu, di zaman saya lulus kuliah dan mencari kerja, yang terekam di benak saya adalah bagaimana seorang fresh graduate dapat bekerja di perusahaan atau lembaga benefit. Punya gaji UMR yang lancar setiap bulan adalah tolak ukur wajib saya dan teman-teman seangkatan kala itu. Tak heran, teman-teman seangkatan saya selalu sibuk menyiapkan diri menjadi ASN atau karyawan. Namun faktanya, anak-anak muda hari ini, (yang dulu saya seusia mereka) sudah tak memusingkan persoalan cari kerja. Mereka hanya butuh internet dan perangkatnya untuk bisa menghasilkan rupiah (malah juga dollar). Dahsyatnya lagi, mereka bahkan tak butuh ijazah, cukup punya pengetahuan dasar, nanti bisa dikembangkan di jalan. "Mulai aja dulu," sebutnya.

www.kinamariz.com
Salah satu platform e-commerce yang bias digunakan para millenials
Melansir berita dari Liputan6.com, Jumat (07/11/2018), Managing Director Google Indonesia, Randy Jusuf, baru-baru ini mengatakan hasil riset e-conomy SEA 2018 menunjukkan sektor ekonomi digital (e-commerce) di Indonesia tahun ini diprediksi melonjak hingga US$ 27 miliar (setara Rp391 triliun). Riset ini menunjukkan bahwa peluang ekonomi ini sangat besar dan menjadi lahan baru bagi para pengguna digital yang bisa memanfaatkannya.

Angin segar tentang peluang digital di Indonesia yang semakin kreatif ini juga disampaikan oleh pemerintah melalui Ke Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) Republik Indonesia (RI). Salah satunya acara yang saya ikuti hari ini, Jumat (07/12/2018) yang digelar di Hotel Grand Aston, Jalan Balai Kota Medan. Workshop yang diiisi dengan berbagai pemateri handal di bidangnya seperti Jubing Kristianto (Gitaris Fingerstyle Indonesia), Mia Izmi Halida & Kiel Dharmawei (Violinist) dan Sunardi Rinakit (Celoteh Receh Cak Kardi) ini mengundang 200-an anak-anak muda pegiat digital untuk mengembangkan kreativitasnya. Hadir pula Staff Ahli Kemenkominfo RI Andoko Darta, Direktur Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kemkominfo Wiryanta, yang diwakili Plt Kasubdit Media Cetak Farida Dewi Maharani, serta para tamu undangan. 

Dalam paparannya, Plt Kasubdit Media Cetak Farida Dewi Maharani menyampaikan, internet dan masyarakat millenials seperti dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Keduanya begitu erat dan saling menopang satu sama lain. "Dunia internet ini bisa dimanfaatkan sesuai tujuannya. Bisa punya manfaat positif, seperti menjadi sumber penghasilan, hiburan, informasi, atau sarang kejahatan misalnya kejahatan siber, informasi hoax, penipuan, dan lainnya yang merugikan orang lain. Karenanya sebagai pengguna dan penghasil konten (Content Creator) kita harus selektif dan bijak menggunakannya," ujarnya.
Soal bijak menggunakan internet ini, saya sepakat bukan cuma tanggungjawab Kemenkominfo RI, namun juga tanggung jawab semua penggunanya. Karena keterlibatan kita yang semakin erat, hendaknya internet menjadi saluran yang menyenangkan dan positif.


www.kinamariz.com
Flash Blogging Medan
Senada dengannya, Staff Ahli Kemenkominfo RI Andoko Darta menjelaskan, ada 6 kategori muda-mudi millenials Indonesia saat ini, diantaranya :
1. Creator atau pembuat konten semisal blogger, youtuber, vlogger, perintis startup, owner online shop, dll.
2. Peduli atau filantropi yang berkutat di dunia relawan, berbagai kepedulian dan kebaikan.
3. Orang biasa, sekelas pekerja dan karyawan
4. Pahlawan alias tokoh masyarakat yang punya peranan besar
5. Cendikiawan atau akademisi
6. Eksplorer atau traveller yang hobinya mengeksplorasi objek-objek wisata.

Keenam kategori millenials inilah yang pada akhirnya mewarnai Indonesia dengan terus memproduksi hal kreatif. Merayakan 4 Tahun Indonesia Kreatif, pada hakikatnya adalah merayakan Revolusi Mental, Indonesia Kerja Bersama yang selalu disebut Presiden Jokowi tersebut bukan lagi sebuah keniscayaan.

Menyadarkan dan terus menyadarkan para generasi bangsa ini tentang peluang negerinya tentu membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Namun saya, kamu, dan kita semua harus percaya bahwa Indonesia dengan segala potensinya bisa berbenah untuk menjadi yang terbaik. Caranya, ya dimulai dari diri kita sendiri, dimulai dari lingkungan terdekat, dan dimulai aja dulu. Semoga!

Ditulis oleh ; Sakinah Annisa Mariz

*Tulisan ini diikutkan dalam Kompetisi Menulis Flash Blogging Medan 2018

12 comments

  1. Silahkan untuk berkomentar, namun ingat ya link hidup tidak diperkenankan diletak sembarangan di sini. Insya Allah saya siap kok blog walking tanpa harus nempel-nempel backlink. Ok. Thanks

    ReplyDelete
  2. Sukses terus semoga kegiatan ini bisa berjalan secara berkesinambungan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin. Terima kasih sudah mampir kak Sundari. Semoga kita bisa terus berkarya membangun negeri

      Delete
  3. Mantap. Semoga menjadi Anak Muda Milenial agar bisa menjadi bangsa yang maju
    Sukses selalu

    ReplyDelete
  4. Tugas kita semua nih mom kin utk kreatif kan ...Yuk jadi blogger yang terus memberikan banyak inspirasi..

    ReplyDelete
    Replies
    1. #Terharu. Amin ya rabb. Pengen bisa berbagi lewat tulisan, semoga bisa bermanfaat bagi orang banyak. Semangat emak blogger

      Delete
  5. Replies
    1. Terima kasih sudah mampir. Amin. Sukses selalu buat kita pegiat literasi digital. Tangkap terus kesempatan baik itu ya. Salam.

      Delete
  6. Anak muda sekarang tak terlepas dari internet, beruntung bagi yang tau memanfaatkannya dengan positif sehingga menghasilkan uang. Sayang awak tak datang kemarin itu lah, kak. Hiks.hiks.

    ReplyDelete

Mohon tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar. Terima kasih.

Literasi Digital