Muara Kabupaten Tapanuli Utara, Sisi Lain Pesona Danau Toba


#SakinahMenulis-Jika ditanya apa spot pariwisata di provinsi Sumatera Utara (Sumut)? Yang pertama terlintas di pikiran adalah Danau Toba, kemudian menyusul objek-objek wisata lainnya. Sebagai salah satu Danau terbesar dan terluas di dunia, Danau Toba memang pantas menjadi ikonnya Sumut. Keindahan panorama, bentang alam di sepanjang Danau Toba, serta bentang budaya masyarakatnya sangat menarik untuk dikunjungi sehingga layak disebut Monaco of Asia.

Danau Toba, didiami oleh 7 (tujuh) kabupaten yang berada di sekitarnya yaitu Kabupaten Samosir, Kabupaten Toba Samosir, Kabupaten Humbang Hasundutan, Kabupaten Simalungun, Kabupaten Dairi, Kabupaten Karo dan Kabupaten Tapanuli Utara (Taput). Maka salah kaprah kalau selama ini wisatawan hanya melihat pesona Danau Toba dari Kota Parapat, karena sebenarnya masih sangat banyak gambaran keelokan Danau Toba yang belum banyak dieksplorasi para turis dan wisatawan lokal, misalnya di lokasi sekitar Bandar Udara Internasional Silangit, yaitu di Kabupaten Tapanuli Utara.

Bandara Silangit yang berada di Jalan Silangit, Kelurahan Silando Muara, Kecamatan Siborong-Borong, Kabupaten Tapanuli Utara ini menjadi akses mudah bagi para pelancong yang ingin melihat Danau Toba dari sisi yang lain. Hanya memakan waktu 20 menit, para wisatawan sudah bisa menikmati kecantikan Danau Toba dari sisi lainnya, tepatnya dari Kecamatan Muara, Taput.

Taput Colour Run Festival 18K Desember 2018
Pemkab Taput sangat serius dalam hal mengembangkan pariwisata Danau Toba di wilayahnya. Salah satunya dengan menggelar Taput Sport Tourism Festival, yaitu Lomba Lari berjarak 18 Kilometer (18K) pada 15 Desember 2018 lalu, dan Youtuber, Vloggers, Bloggers Camp pada 14-15 Desember 2018. Dua agenda besar ini dilaksanakan oleh Dinas Pariwisata, Dinas Pemuda dan Olahraga Taput, yang bekerjasama dengan Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT), Pemprov Sumut, serta Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) Sumut. Hadiah yang diperebutkan dalam ajang Lomba Lari ini juga cukup menggiurkan yaitu total Rp 110 juta untuk 2 kategori putra dan putri.

Panitia Taput Colour Run Festival 2018 menetapkan Start dari Dermaga Pelabuhan Muara dan Finish di Lapangan Gantole Hutaginjang. Diikuti oleh ratusan pelari dari beragam usia dan profesi seperti pelajar, mahasiswa, profesional, hingga masyarakat umum, lomba ini cukup menarik antusiasme wisatawan lokal. Hal ini tampak dari asal kabupaten/kota peserta lomba yang beragam, seperti misalnya dari Kota Medan, Kabupaten Karo, Kabupaten Dairi, Kota Pematangsiantar, bahkan ada juga beberapa peserta dari provinsi di luar Sumut.

Acara ini mengusung Hastag #MuaraLakeToba #PesonaDanauToba #WonderfulIndonesia #TaputSportTourismFest2018 #ColourRunTaput2018 #TapanuliUtara #MuaraTaput #TaputFestival2018 #GantoleHutaginjang dan #WisataTaput sebagai pamungkasnya. Hastag ini ditujukan agar memudahkan para traveller yang ingin menyaksikan keindahan Taput sepanjang acara ini digelar. Oh ya, tentu saja, sehari sebelum festival olahraga ini berlangsung, Pemkab Taput telah mengundang para pegiat sosial media. Sebanyak 15 orang terdiri dari Selebgram, Youtuber, dan juga Blogger ikut serta. Beruntung, saya termasuk salah satunya yang bisa menikmati perjalanan wisata ini. Kisah serunya, saya ceritain di bawah ini, ya!


Bermula dari Titik Nol
Perjalanan kami dimulai pada Kamis (13/12/2018) malam sekira pukul 10.00 WIB, bertolak dari Merdeka Walk yang notabene posisinya dekat titik nol kota Medan (Tugu depan Kantor Pos Jalan Balai Kota). Mengendarai Minibus Isuzu Elf warna abu, kami berlimabelas ditambah satu sopir melaju menembus Jalan Lintas Sumatera. Pukul 03.00 WiB dini hari saat kami tiba di Parapat, Samosir. Jalanan yang lengang -karena kami berangkat satu hari sebelum Weekend dimulai-, membuat perjalanan kami mulus dan lancar. Gerimis halus sepanjang jalan Medan-Parapat meninabobokkan sebagian penumpang dan membuat sebagian lainnya semakin waspada. Maklum, dalam keadaan lalulintas setenang apapun, kecelakaan tetap harus diwaspadai. Bersyukur kami bersama para Traveller hebat seperti bang Dado (@DadozhuHarahap), bang Roy (@WonderfolkIndonesia), bang Hendra (@Hendra_Jashrp) dan Vina (@Vinayulizaoktaviana) yang selalu terjaga dan sesekali mengajak sopir mengobrol supaya tetap awas.

Spot 1 : Parapat
Parapat masih basah dan sangat dingin saat mobil terparkir di salah satu warung bertuliskan Warung Aceh. "Dan setelah jauh berjalan, ternyata Bus membawa kita ke Aceh," canda saya dengan beberapa teman yang tampak kedinginan. Mereka membalasnya dengan senyum beku, maklum di Instastory saya, suhu menunjukkan 18 derajat. Tentu saja, sepiring Indomie Telur (Intel) dan segelas teh manis panas jadi orderan massal di warung itu. Usai urusan mengisi perut dan membuangnya sebagian, sopir pun mengajak kami melanjutkan perjalanan.


Spot 2 : GNB Sentosa
Tepat sekitar pukul 06.30 WIB kami melihat tugu menuju Bandara Silangit yang menandakan, tujuan kami ke Hotel GNB Sentosa di Kecamatan Muara, hanya tinggal dua puluh menit lagi. Jalan mulus beraspal dari Bandara ke Muara membuat perjalanan aman dan santai. Beberapa penumpang mulai terbangun karena decak kagum kami melihat pesona alamnya. Pada beberapa tikungan, kita bahkan bisa melihat keelokan Danau Toba yang berbeda. Bukan Danau seperti kebanyakan sketsa, namun harmoni biru, hijau, putih, dan warna kontras lainnya yang amat memanjakan indera penglihatan. Sebab melihatnya dari frame yang berbeda, Danau Toba semakin menawan sekaligus membikin penasaran.

Bus tiba pukul tujuh kurang di depan sebuah bangunan baru, mewah bertingkat, yang kontras dengan bangunan sekitarnya. 'GNB Sentosa Lake Resort' demikian tertulis di plakatnya. Oh betapa senangnya pinggang saya setelah berjam-jam duduk di Bus, kini bisa merasakan empuknya kasur hotel. Namun ternyata angan-angan itu ketinggian, sebab kami harus segera bersiap diri dan briefing pagi dengan pejabat Pemkab untuk mengetahui rute perjalanan hari ini, Jumat (14/12/2018) dan besoknya Sabtu (15/12/2018). Kami diajak ke Lounge Restaurant hotel yang semi Outdoor, sejuknya Danau Toba menyambut mata dan spot ini tak terlewatkan untuk para tamu hotel berswafoto. Di sudut sekali, ada speed boat, perahu bebek, dan sampan kecil tersedia untuk para tamu yang ingin bermain-main di Danau atau menyeberang. Sungguh hotel yang menyenangkan.


Spot 3 : Desa Bintang Pariama
Selesai briefing, kami langsung bergerak menuju lokasi Camp yang dijanjikan. Bukan Camp dalam artian tenda, sebenarnya. Namun Camp yang dimaksud adalah Home Stay di rumah warga setempat. Wow, saya langsung senang membayangkan bakal menginap di Jabu (rumah) adat Bolon yang penuh nuansa tradisi khas Batak. Tepatnya di Desa Bintang Pariama, Kelurahan Silalitoruan, Kecamatan Muara, Kabupaten Taput. Lokasi Home Stay ini merupakan pilot project Pemkab Taput, dimana para penduduk lokal diajak bekerjasama meminjamkan/menyewakan rumahnya untuk dihuni para turis/wisatawan yang menginap. Fasilitas seperti MCK juga tersedia, menyatu dengan bangunan rumah sehingga para pelancong tak kesusahan. Ke depannya, fasilitas di Jabu Bolon ini akan ditingkatkan demi kenyamanan bersama. Harus saya akui, bentang alam yang ditampilkan di Home Stay ini sangatlah apik. Mulai dari areal pesawahan, bukit, tebing, hingga hamparan Danau Toba yang luas dan jernih ada di sekitar lokasinya. Wajar saja, Pemkab Taput optimis sekali memajukan daerah ini. Oh ya, fasilitas listrik, sinyal telpon dan internet juga sudah tersedia di sini. Jadi tak perlu takut hilang sinyal ya, beberapa provider malah menampilkan sinyal 4G.

Spot 4 : Huta Ginjang, Siborong-borong
Usai berkenalan dan berkeliling lokasi Home Stay, perjalanan berlanjut ke Lapangan Gantole Huta Ginjang. Lokasi yang akan menjadi titik Finish pelari besok. Lapangan luas ini bukan sekedar hamparan landai, namun ini juga menjadi Ikon dimana Taput sering disebut 'Negeri di Atas Awan'. Mulanya saya tak percaya, karena sewaktu datang ke sana hari telah siang, matahari sudah naik dan pemandangan Danau Toba yang lagi-lagi super indah menghampar. Namun ketika esoknya saya ke sana lebih pagi, ternyata yang saya dapati hanya kabut dingin dan benar-benar dingin hingga wajah saya terasa beku. Kabut itu menyembunyikan tepi danau yang jauh menjorok ke bawah. Karenanya saya cukup hati-hati untuk tidak menembusnya, was-was kalau-kalau kaki saya tergelincir menerjang pagar pembatas, lalu tubuh ini terpelanting ke jurang dan hilang ditelan Danau Toba yang tak terduga dalamnya. (Mulai Lebay) Tapi benar kok. Tempat ini cukup menarik dan ekstrem buat memacu adrenalin.

Spot 5 : Nanas Sipahutar
Puas berfoto, kami lanjut ke Kecamatan Sipahutar. Tepatnya di Desa Onan Runggu 1, 'desa penghasil nanas (Pineaple) terbaik nomor 1 di Indonesia dan nomor 2 di dunia'. Demikian ujar Kepala Desa (Kades) Onan Runggu 1, Gindo Simanjuntak. Disambut dengan berton-ton nanas, kami dijamu dengan sangat istimewa. Nanas-nanas segar yang sangat manis, berair, renyah, gurih dan tentu saja dingin alami tanpa dimasukkan ke dalam lemari pendingin (freezer), karena suhu disana cukup sejuk. Saya yang kurang terlalu suka nanas saja jadi ketagihan. "Nanas-nanas ini dibibitkan sudah puluhan tahun, makanya ini keturunan yang kepuluh sekian dan rasanya semakin baik. Dan yang terpenting, nanas di sini manis tidak bikin sakit di tenggorokan. Nanas ini buah yang sangat banyak manfaatnya seperti anti kolesterol, hypertensi, dan lainnya," sebut Pak Kades dengan bangga. Tentu saja semua yang dikatakannya itu benar, Ibu saya sendiri di rumah sering membuat campuran Jus Sawi-Nanas bila Darah Tinggi (Hypertensi)nya kumat dan cepat mereda. Nanas ini juga baik untuk kesehatan pencernaan, bila sembelit, biasanya kami di rumah sering memakan nanas dan untuk anak-anak, buah nanas ini juga bisa melancarkan pencernaannya asal tidak berlebihan.


Spot 6 : Ngopi di Parkopi Tarutung
Hari mulai senja saat kami puas memakan nanas, mendengar kisahnya dan berfoto di kebun nanas. Sopir bersama seorang utusan Pemkab Taput pun mengajak kami ngopi sore di Parkopi Tarutung. Berlokasi di Jl. Sisingamangaraja No.193, Hutatoruan X, Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara 22411, tempat ini juga sering disebut Excel Coffee. Duh, nyaman sekali tempatnya dan di sini kita bisa melihat bermacam ragam jenis kopi asli Tarutung yang diproses secara unik dan bisa melihat langsung cara pengolahannya. Parkopi ini adalah bentuk kedai kopi modern dimana pengunjung bisa santai mengobrol dan bisa juga berswafoto. Banyak sekali spot yang instagramable di setiap sudutnya dan terpenting areal cafe dibuat indoor, outdoor hingga semi outdoor. Ada spot duduk yang sangat bagus di belakang Cafe, bisa buat foto preweding atau buat yang suka fotografi tak akan melewatkan spot ini.


Spot 7 : Hot Spring di USK Hineni
Usai mengganjal perut, kami pun diajak membersihkan diri ke Pemandian Air Panas Usaha Kita (USK) Hineni, tak jauh dari Parkopi. Tepatnya berada di Jl. AM. Tambunan No.Kutabarat, Simamora, Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara 22411. Disini rekomendasi saya tingkat 5. Selain tempatnya luas, bersih, bagus, kita bisa nyaman sekali bersantai disini. Airnya jernih dan kolamnya dikeramik, bukan batu, sehingga lebih terjaga higienitasnya. Ada kolam yang terbuka di luar, ada kolam yang tertutup di dalam. Ada Gazebo yang bisa untuk keluarga duduk memesan makanan atau mengecas Handphone. Paling nikmat mandi di sini pada malam hari, karena cuaca Tarutung yang dingin, sangat kontras dengan air yang hangat.


Spot 8 : Dijamu Bupati Taput
Mandi sudah, sekarang saatnya kami mengisi perut sebelum berjumpa langsung dengan Bupati Taput, Drs Nickson Nababan. Ternyata di Tarutung, tidak susah juga mencari menu halal karena di sini juga ada Warung Ayam Penyet dan Rumah Makan Minang. Lepas berkuliner, kami pun mempersiapkan diri berjumpa Pak Bupati di sela-sela jadwalnya yang padat. Pak Bupati yang satu ini memang lain. Tak hanya memprioritaskan kami sebagai tamunya, kami juga disambutnya langsung dengan penuh keakraban. Saya sangat kagum dengan caranya memperlakukan kami dengan sangat santun. Pak Nikson, demikian kami memanggilnya, menyuguhi kami dengan Kacang asli Taput, minum air kemasan produksi Taput (PRO Tio), serta mencicipi Wyne Coffee, yaitu minuman fermentasi Kopi khas Tarutung yang kualitasnya sudah mendunia. Hm, kami cukup senang bisa mengobrol dan berbagi harapan kepada Pak Nikson. Sosoknya yang rendah hati, cerdas, enerjik dan kharismatik, membuat kami percaya bahwa Taput akan semakin maju di bawah kepemimpinannya. Tak banyak pesan yang disampaikannya, beliau hanya meminta kami menikmati perjalanan ini dan melihat pesona Taput dengan ciri khasnya tersendiri.


Back to Homestay, View Malam Penuh Kesan
Malam semakin larut saat kami diajak kembali ke Home Stay. Mobil terparkir di jalan besar. Butuh jalan mendaki ke lokasi Home Stay. Menembus malam yang dingin, kami sengaja berjalan kaki dari jalan besar ke Desa Silalitoruan (tadi siang masih diantar dengan mobil). Jalan yang cukup menantang rupanya karena tubuh saya terbiasa dimanjakan dan jarang berolahraga, meski hanya ratusan meter, sempat nafas ini tersengal-sengal saat menanjak naik ke desanya. Namun perjalanan mendaki inipun ternyata sangat berkesan buat saya karena kami lakukan beramai-ramai penuh canda. Melewati areal landai dengan Danau Toba memantulkan cahaya bulan, ternyata membuat tengkuk saya lebih rileks. Di luar rasa lelah, ada rasa rindu ingin mengulangnya lagi. Malam itu, usai membersihkan diri, kami tidur dengan sangat nyenyak.


Hari Kedua, Finish Colour Run di Huta Ginjang
Hari yang dinantikan pun tiba. Festival Colour Run dibuka dan seribuan orang berkumpul di Lapangan Huta Ginjang. Kami tiba di sana dan menyaksikan para pelari satu persatu tiba dengan wajah lelah. Bayangkan saja, rute 18 Kilometer itu bukan jalan landai aman sentosa, tapi jalan mendaki menurun penuh tantangan. Duh, kalau saya sudah pasti tidak akan layak ikut ini. Namun karena masyarakat di sini sudah terbiasa dengan rutenya dan stamina mereka juga sehat prima (wajar karena alamnya masih asri dan konsumsi makanan sehat). Ternyata faktanya, peserta datang dari berbagai daerah di Sumut dan luar provinsi. Puluhan stand kuliner juga mewarnai lapangan ini. Masing-masing kios ditempati mewakili Desa. Desa Onan Runggu 1 kesayangan kami juga punya stand disini. Pak Kades dan timnya membagi-bagikan nanas secara gratis untuk dibawa pulang. Untuk kami diberi keleluasaan mau ambil seberapa banyak, namun karena keterbatasan ruang di mobil jadi kami bawa semampunya. 2 buah seorang. Saya sendiri malah bawa 5 karena ada teman yang tak mau repot menenteng oleh-oleh. 'Rugi sekali tak bawa nanasnya pulang, apalagi nanas ini terbaik,' pikir saya. Bisa Anda bayangkanlah finally ketika pulang, saya menggotong-gotong 5 buah nanas itu susah payah. (Ada cerita lucunya juga, nanti saya ceritain di kolom komentar kalau ada yang nanya)


Penyerahan Hadiah dan Cinderamata
Menjelang tengah hari, pengumuman pun dimulai. Pemenang diambil dengan kategori umum dan pelajar, laki-laki dan perempuan. Usai mengumumkan, Bupati Taput, Pak Nikson memberikan kesempatan buat kami para pegiat sosial media menyampaikan ajakan untuk lebih peduli dengan daerah Taput. Saya masih ingat ketika Pak Nikson mengatakan bahwa yang dibangunkan itu manusianya mentalnya, semangatnya, karena SDM yang unggul akan menghasilkan tenaga yang besar untuk pembangunan daerah, katanya. Kami pun berfoto bersama dan menerima sebuah ulos kecil di leher, tanda terima kasih Bupati dan penghargaannya. Usai makan siang dan berkemas, terakhir sebelum pulang, kami diajak untuk menyebrangi sebuah desa terdekat dengan Muara. Namanya adalah Desa Papande.


Spot 9 : Menenun Ulos di Papande
Menyebrang dengan kapal ferry kecil (namun bisa mengangkut mobil) selama 15 menit, kami sudah tiba di Papande. Desa ini terkenal dengan kerajinan tenun dan ulos. Penduduknya tidak seramai di Muara dan masyarakat di Papande masih belum terbiasa melihat keberadaan orang asing di desanya. Namun demikian, mereka tetap menyambut kami ramah dan mau berbincang tentang desanya. Saya dan teman-teman berkesempatan menyaksikan proses pembuatan ulos dengan mesin tenun manual. Dikerjakan oleh para perempuan di desa ini, ulos-ulos cantik itu dijual dengan harga terjangkau karena belum sampai ke Tengkulak. Biasanya, dalam hari-hari tertentu perempuan pengrajin ulos itu kerap menjual produknya kepada Tengkulak dengan harga borongan. Tentu saja biaya porduksi ditekan, namun mereka menjualnya dengan jumlah yang tidak sedikit. Karenanya profesi ini hanya dilanjutkan oleh para wanita usia 30an ke atas. Para gadis dan pemuda di desa ini sudah pergi merantau, entah itu untuk sekolah atau mencari pekerjaan di provinsi ataupun negara lain.

Satu-satunya rute untuk menuju desa ini adalah kapal ferry kecil. Si Kapal ini hanya tersedia hingga pukul 5 sore. Tak mau terlambat, kami mempercepat perjalanan dan kembali ke hotel. Cukup mencengangkan saya karena rupanya jarak antara pelabuhan dan hotel ini hanya ratusan meter. Sangat dekat ternyata dari GNB Sentosa. Maghrib tiba, kami pun makan di RM Sederhana depan hotel yang sangat berhasrat ingin kami inapi. Namun sopir menekan klakson tiga kali, tanda perjalanan pulang sudah tiba. Kami mengabadikan segala kenangan di sini dengan foto, video, dan tulisan. Berharap suatu hari nanti akan dapat berkunjung kembali dan mengulang memori. Ah, Indahnya Muara, sejuta kenangan dan jejak perjalanan saya simpan di tanah Tapanuli Utara.


Ditulis oleh : Sakinah Annisa Mariz

6 comments

  1. Silahkan untuk berkomentar, namun ingat ya link hidup tidak diperkenankan diletak sembarangan di sini. Insya Allah saya siap kok blog walking tanpa harus nempel-nempel backlink. Ok. Thanks

    ReplyDelete
  2. Replies
    1. Ayok mari. Set tanggal dan lokasi mana aja yang mau dikunjungi.

      Delete
  3. kk ani kmrin sudah mau kemari tapi tak jadi karena kerja waduh...buat lagi la acaranya pemandangan indah banget disana 😍😍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya ya kak. Rugi nggak mampir-mampir kalua udah jalan kesini

      Delete
  4. sudah lama tidak ke danau toba.. nanti sekali sekali pengen travelling kesini lagiii. kangen suasananyaa

    ReplyDelete

Mohon tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar. Terima kasih.

Literasi Digital