Cerpen : Mantera Jodoh

www.kinamariz.com -Image Source : c.mi.com
#SakinahMenulis-Pagi ini langit begitu cerah. Hanya sepotong awan yang tersisa di sudut timur. Membungkus matahari separuh, sinarnya masih pucat malu-malu. Jam weker biru tua itu menjerit nyaring. Pukul 07.00 WIB Kikha tersentak dari lelap tidurnya, meski kantuk masih berat menggelayut di pelupuk mata. Tangannya meraba weker biru yang tak mau diam itu dari samping tempat tidur. Kikha menggeliat dan menguap lebar, diliriknya angka yang ditunjukkan jarum pendek.

“Astaga.. ” Kikha terkesiap, 07.00 WIB. Gadis manja itu hanya punya 30 menit lagi sebelum gerbang sekolah digembok Pak Satpam. Mama yang dinas keluar kota, alpa membangunkan Kikha, Kikha panik, menukar piyamanya dengan seragam, kejar-kejaran dengan mobil angkutan umum. Kalau sudah jam segini, biasanya angkot-angkot akan sarat dijejali anak sekolah yang bernasib seperti Kikha. Keringat bercucuran di dahi dan kerah baju seragamnya. Jogging pagi rutinitas baru Kikha, semenjak Mama dinas keluar kota.

Nafasnya masih tersengal, saat gerbang sekolah tinggal setengah meter lagi. Kikha sukses melewati gerbang, melesat kabur ke kelasnya. Tiba-tiba, seorang siswa berseragam olahraga melintas tepat dipintu kelas Kikha dengan membawa sekardus bola kasti. Ups, Kikha terlalu kencang untuk mengerem larinya.

“Braaakkk….” Kikha menubruk anak laki-laki itu sempoyongan. Bola-bola berserakan dan melambung  di koridor seperti euforia piala dunia. Warga kelas riuh, menyoraki aksi Kikha si cerdas jagoan SMU Citra Bangsa yang ceroboh. Kikha meringkuk layu dipapah ke ruang UKS. Lututnya terluka, darah segar mengalir di kulitnya yang mengelupas. Kikha mengaduh kuat-kuat. Ketika siswa berbaju olahraga itu mengusapkan antiseptik di lutut Kikha. Tak ada omelan ataupun ceramah panjang dari anak keren ini. Sikapnya sigap dan bertanggung jawab. Dibalutnya luka Kikha hati-hati. Cemas menghantui Kikha, kesalahan yang dibuatnya terlalu meriah.

“Kamu baik-baik aja kan?” tanya anak itu lembut, penuh senyum. Memamerkan barisan gigi putihnya yang rapi. Kikha mengangguk takjub. Baru kali ini rasanya ia mengenal siswa Citra Bangsa bertampang Nicholas Saputra. Kikha diantar ke kelasnya. Siswi-siswi salah tingkah cari  perhatian Si cakep yang mirip Nicholas Saputra. Ines, sahabat karib Kikha menepuk perban yang membalut kakinya.

Nih luka bawa hoki!” Ines berkomentar gembira. Kikha cuma senyum-senyum sendiri, membayangkan kemurahan hati pangeran tadi.

“Tapi..eh, siapa nama anak baru tadi ya?” Kikha dan semua penduduk kelas bergender wanita bertanya-tanya.

Bel sekolah berbunyi tanda pelajaran telah selesai. Para siswa berlomba menyandang ranselnya. Kikha dipapah Ines dan Sashi berjalan terseok-seok menuju gerbang sekolah.

“Yakin bisa jalan sendiri Kha?” tanya Ines iba.

“Lutut kamu kan masih luka. Bahaya, jalan kemana-mana. Kamu pulang sama kami, ya Ki?” pinta Sashi.

“Aku harus cari bahan Mading ke Pasar Loak, Sashi. Derin udah kasih tugas itu seminggu lalu. Kalian gak mau kan nama baik kelas kita tercemar gara-gara aku. Aku bisa jalan sendiri kok. Tenang aja kelen. Ok! Aku pergi dulu. Dah Ines, dah Sashi.” Kikha melangkah mendahului dua sahabat terbaiknya. Ines bungkam, Kikha memang keras kepala. Sama seperti mereka berdua. Diseretnya Sashi untuk mengikuti Kikha dari belakang.
***
Terik matahari memanggang ganas. Sudah dua botol air mineral kutenggak. Panas masih bercokol di tenggorokan. Berjam-jam aku mengitari Pasar Tradisional ini. Foto dan wawancara sudah rampung. Ngilu menusuk-nusuk lututku, keringat membanjir lagi. Mataku mencari-cari tempat berteduh. Di sebuah bangku panjang, aku duduk merehatkan lututku barang semenit. Rasa aneh ini muncul lagi. Aku merasa dibayang-bayangi Ines dan Sashi. Kubalikkan badan spontan ke belakang. Sepasang dara jelita terkekeh di sana. Yang satu centil bergaya modis. Yang satu imut berdandan ala balita dengan kepang dua.

Kusodori mereka sebungkus rujak pedas yang kubeli di simpang jalan tadi. Wajah ayu nya berubah beringas. Rakus melahap kedondong dan mangga asem yang tak jadi kucicipi. Hehe.. itulah kami, perempuan.

“Ehm, sejak kapan kalian belajar jadi mata-mata?” aku bertanya sambil menyodorkan sebotol soft drink dingin ke Ines yang meradang terkunyah cabe rawit.

“Bukan begitu.. kalo sampai kamu kenapa-napa, kan kami juga yang repot. Betul gak Sashi??” Ines nyerocos cari dukungan Sashi. Sashi cuma “angguk-angguk, geleng-geleng” menjawab runtutan pembelaan Ines.

“Ayo pulang!” ajakku menengahi Ines dan Sashi yang nyaris nekat menjilati plastik bekas rujak. Matahari masih terik memanggang jalan. Sashi dan Ines bersikeras mengelilingi Pasar Loak sekali lagi. Sekedar melirik pernak-pernik  bekas yang mungkin bisa dibeli dengan harga miring. Sashi berlari kesana-kemari. Persis anak kecil berbelanja dengan Ibunya. Kikha selaku tetua yang dituakan, heboh mengawasi kelakuan Sashi. Ines asyik menawar gelang etnik yang tinggal tiga biji.


www.kinamariz.com -Image Source : Liveanddare.com
Seorang wanita tua memperhatikan kami dari seberang. Entah hanya perasaanku saja atau memang sungguhan. Teman-teman kuberitahu dengan suara tercekat, setengah berbisik. Namun mereka malah bilang aku paranoid. Sungguh, kurasakan mata wanita itu memanggil namaku.

“Kikha..”  teriaknya. Aku berjalan seperti tersihir kekuatan magis yang sangat kuat. Sashi mengejar langkahku di seberang. Begitu pula Ines yang mulai mempercayai ceritaku.

“Mencari sesuatu?” wanita berambut tergulung itu menatap mata Kikha dalam-dalam. Kikha  menggeleng pelan. Sashi, dengan lugunya membuka-buka kartu tarot yang disusun di atas meja.

“Hushh..” Kikha menepis tangan Sashi yang usil. Wanita itu tertawa. Penuh pesona mistis. Buru-buru Kikha menyeret kedua temannya pulang. Tiba-tiba Ines melontarkan pertanyaan aneh.

”Kami mau diramal..” sahutnya. Wanita itu tersenyum penuh arti. Dipandangnya wajah kami satu persatu. Kartu diaduk. Masing-masing punya makna dan jawaban tersendiri. Wanita berkerudung hitam itu mengatakan bahwa Kikha dan teman-temannya bukan jodoh yang tepat. Diantara mereka terdapat tabir yang akan saling menutupi jodoh satu sama lain. Tabir ini bisa membuat mereka jomblo selama-lamanya, jika tetap bertiga. Sashi dan Ines terpana mendengar jawaban si peramal. Kikha diam saja, tak berniat percaya ataupun membantah.

“Sebenarnya ada satu mantera yang bisa membuka tabir kalian.” Setengah berbisik Wanita bermata cokelat itu memandang kami.

“Apa..?” tanya Sashi penasaran. Wanita itu diam sambil membuka kantung kain abu-abu tua. Dari dalam kantung kecil itu diambilnya tiga butir batu biru, dan membaginya satu-satu ditangan mereka.

“Ini adalah lambang mantera. Mantera ini yang akan membuat kalian dipuja-puja pria. Ingat, mantera ini akan hilang jika kalian memiliki laki-laki yang mencintai kalian setulus hati.” Anak-anak itu berlari sekencang-kencangnya meninggalkan wanita peramal yang terkekeh-kekeh di atas kartu tarotnya. Sashi memeluk bahu Kikha kuat-kuat. Rasa ngeri masih menghantui mereka. Ines santai saja, penasarannya terjawab sudah. Pastilah mereka bertiga jadi Diva bulan ini. Hanya riang yang bersarang di matanya. Kikha terkejut meraba batu biru yang terselip di saku seragamnya.

“Oh tidak Ines, Peramal tadi memberikan ini pada kita.” Kikha panik seperti Sashi. Buru-buru Ines menentramkan hati teman-temannya.

“Udah, gak usah dibahas, zaman modern kayak gini. Gak ada salahnya cari jalan praktis cari cowok. Ingat woi kita semua kan jomblo. Apa kelen berdua mau jadi gadis tua gak laku seumur hidup??”  Ines mengancam teman-teman lugunya.

“Begini prend, kita pake aja dulu batu ini. Lagian belum tentu juga nih batu bawa hoki. Ntar kalo udah bosan, baru kita buang. Beres!” tutur Ines enteng mencoba menentramkan kegalauan yang melanda mereka.

“Oke deh, just enjoy it!!” seru Sashi sembari mengedipkan sebelah matanya ke arah Kikha. Tak disangka, seorang siswa berseragam SMA melintas derngan Ninja Thundernya di depan mereka.

“Keren juga.” Bisik Sashi di telinga Kikha. Tiba-tiba anak tadi berbalik ke arah mereka. Senyum manis terkembang di wajahnya. Sashi membalas senyumannya. Spontan anak laki-laki itu menjulurkan tangannya untuk berkenalan. Bercerita akrab hingga sampai saling tukar nomor ponsel. Ines dan Kikha semakin percaya, kalau wanita peramal tadi tidak main-main. Anak laki-laki tadi berlalu sembari melambaikan tangannya pada mereka bertiga. Sashi melompat-lompat bahagia. Masing-masing dari mereka mulai menyusun strategi.
www.kinamariz.com -Image Source : Gypsylakedesigns.com-
Esoknya, sekolah jadi meriah dengan kehadiran tiga diva baru. Sashi, si manis berkepang imut. Kikha, si jagoan matematika atau Ines, gadis bawel yang tidak akan kehabisan perbendaharaan kata, modis dan glamour. Masing-masing punya karakter tersendiri. Nama mereka melejit di kaum lelaki. Perjalanan pulang-pergi sekolah makin tidak aman saja.

Selalu ada lelaki yang usil dimana-mana, seperti semut bereaksi pada gula. Perpustakaan jadi ramai, membantu Kikha sekedar mencari literatur pelajaran Biologi. Sashi yang hobi internetan di warnet sekolah pun terganggu aktivitasnya. Dijahili user-user yang juga surfing di sana. Beda lagi dengan Ines si centil yang butuh dipuja. Kehadirnya hanya untuk menebar pesona.

Tak terasa sudah empat minggu ketenaran mereka mencuat seantero sekolah dan komplek perumahan. Kikha dan Sashi mulai gerah dari rayuan gombal cowok-cowok fans pribadi mereka. Ines santai saja menikmati banjir hadiah dari penggemarnya. Ines makin sulit ditemui. Hari-harinya dihabiskan bersama para penggemar yang tak kunjung surut. Pacarnya tak terhitung lagi. Hampir semua fansnya dijadikan pacar. Tidak dengan Kikha dan Sashi yang belum berani menjalin komitmen. Bagi mereka cinta itu murni, tak bisa dipaksa ataupun dijampi dengan mantera.

Sepulang sekolah, Kikha dan Sashi berniat mencegat Ines. Kutukan ini harus segera dimusnahkan. Mereka sudah tidak tahan lagi. Dari kejauhan terlihat Ines asyik mengobrol dengan Farel, kapten futsal sekolah luar. Tak perduli, Farel ingin mengantar Ines pulang. Mereka menarik paksa Ines ke belakang kantin yang sepi.

“Nes, kita perlu bicara..” Kikha mencengkram kerah Ines kuat-kuat. Sashi memegangi tangan Ines agar tak ada celah untuk kabur.

“Kami udah bosan hidup gak normal kaya’ gini Nes. Kikha dan Sashi menatap mata Ines dalam-dalam.

“Kita harus keluar dari kutukan ini Nes, harus!” Kikha menimpali.

Whats?? Apa? Kutukan? Buka kacamatamu Kha! Bukannya ini yang kamu inginkan? Heeh, kemarin aku dengar kamu jalan sama Rangga, cowok pujaanmu itukan? Malahan aku dengar, kamu udah pacaran sama dia.” Ines menyerang balik. Kikha gelagapan.

“Lho Kikha, jadi benar gosip yang aku dengar dari orang-orang?” pekik Sashi.

“Kamu kenapa gak bilang sama aku. Pantesan aja kamu gak sempat lagi dengar curhat aku tentang Rangga, bantu aku cari kado buat dia. Kamu jahat Ki, kamu egois, kamu pengkhianat!!” suara Sashi berat membendung tangis yang siap meledak.

“Bukan begitu maksudku Sashi...” Kikha panik meredam hatinya yang tercabik.

“Eh, Ines.. jangan ributlah!. Kamu biang keladi masalah ini. Kalau bukan gara-gara batu mantera sialan itu, mungkin kita gak akan saling menyakiti seperti ini!!. Benarkan Sashi??” Kikha mencari dukungan.

“Udah cukup Ki, kamu gak usah menyalahkan siapa-siapa lagi. Yang jelas kalian berdua udah mengkhianati aku, mengkhianati cinta tulus aku, mengkhianati persahabatan kita. Aku benci..kalian!!” Sashi tersedu sedan berlari meninggalkan Ines dan Kikha. Kikha menggepal tinjunya kuat-kuat. Tak tahu akan di layangkan kemana.

“Liat tuh, gara-gara kamu Sashi kecewa, tahu!!” Ines menunjuk Kikha yang juga hampir meledak tangisnya.

“Nes, kamu harus sadar sekarang. Kamu lihat, persahabatan kita kacau balau gara-gara keegoisan kamu!! Kalau aja kamu mau sedikit lebih peduli, kita pasti tidak begini..” balas Kikha sambil melepas cengkramannya.

“Oh, jadi menurut kamu, aku egois. It’s Ok! Tapi asal kamu tahu, aku gak pernah tertarik merebut cowok yang disukai teman aku!! Enggak seperti kamu yang udah mengkhianati Sashi dan merebut Rangga..”

“Plakkk!!!“ Kikha menampar mulut Ines. Ines menangis. Darah segar menetes dari bibirnya yang pecah.

“Ini Kha? Ini arti persahabatan yang kamu elu-elukan itu?? Oke, terserah kamu. Tapi aku sama Sashi, gak akan pernah memaafkan pengkhianatanmu, Kha!! kita bubaaarr.!!” Ines teriak histeris. Lalu pergi meninggalkan Kikha begitu saja. Kikha diam dalam tangisnya yang terdalam, untuk semua kekacauan yang mengobrak-abrik persahabatan mereka.

“Kikha..” seseorang memanggil namanya lembut. Suara itu, tangis Kikha meledak hebat. Bahunya berguncang-guncang, menahankan luapan perasaan yang menjadi-jadi. Limpahan air mata mengucur deras di balik kacamatanya. Rangga mengusap bahu Kikha dengan hangat. Tangis Kikha semakin nyaring terdengar. Rangga menuntun Kikha ke dalam mobilnya. Saat ini, Kikha tak bisa berfikir jernih. Isak senik mewarnai suara Kikha. Rangga tetap setia menunggui Kikha meluapkan emosinya.

“Rangga, aku harus menjelaskan ini padamu.” Kikha menatap mata Rangga yang teduh. Pandangan mereka bertemu. Mendeburkan ombak dahsyat di jantung Kikha. Kikha jatuh cinta. Ya, dia benar-benar jatuh cinta pada Rangga. Rasa yang sama saat Rangga pertama kali mengoles antiseptik di lututnya yang terluka.

“Tuhan..apa yang telah kulakukan?” otak Kikha segera menolak rasa ini, tapi hatinya tak bisa dibohongi. Rangga membuka kacamata Kikha. Menatap wajah polosnya dibanjiri air mata perih.

“Kikha, tolong. Jangan siksa diri kamu seperti ini. Cerita sama aku. Aku akan bantu kamu sekuat tenagaku.” Rangga mengusap pipi Kikha yang basah.

“Tolong Rangga jauhi aku!” Kikha menjawab pelan dibalik tunduknya. Suara Kikha semakin samar terdengar.

“Aku udah tahu semuanya Kikha. Maaf aku dengar pertengkaran kalian tadi. Kamu gak perlu takut. Kutukan itu akan berakhir, aku akan bantu kamu sebisaku.” Rangga menggenggam erat jemari Kikha.

“Tidak bisa Rangga. Kamu gak tahu apa-apa tentang semua ini. Persahabatan aku udah hancur berkeping-keping. Ines dan Sashi udah benci sama aku. Aku mengkhianati cinta Sashi ke kamu. Kamu itu cuma terpedaya mantera jodoh yang kami dapat dari seorang peramal sebulan lalu.” Kikha membongkar semua rahasia mereka di hadapan Rangga. Aneh, mata Rangga tetap teduh dengan seulas senyum tulus menatap Kikha.

Kenapa kamu gak berusaha kembalikan keadaan jadi normal lagi??.” Rangga menatapnya tajam.

“Aku benar-benar cinta sama kamu, Kha. Murni gak pake’ jampi apapun.” Sebuah pengakuan tulus meluncur dari bibir Rangga. Menghentakkan jantung Kikha 7,9 skala richter.

“Kamu serius, Ngga? Gimana dengan Sashi??” tanya Kikha panic.

“Sashi belum tahu, selama ini yang dia suka itu bukan aku tapi Eza, saudara kembar aku”, jawab Rangga.

“Eza?? Kenapa kamu baru bilang sekarang, Ngga?”

“Karena Eza itu temen Facebook Sashi. Dia belum mau Sashi tahu siapa dia. Sashi kan banyak penggemarnya.” Rangga tersenyum lagi. Kikha menangis. Kali ini bukan sedih, tapi air mata haru. Rasa hangat terselip di dadanya.

“Jadi, kamu mau kan terima cinta aku??”, Rangga menangkap mata Kikha jenaka. Kikha mengangguk pasti.

“Cihuuyy!!”, Rangga bersorak girang. Kikha tersenyum.

“Oh, tunggu. Batu biru itu, Rangga”. Kikha merogoh kantung tasnya yang kosong.

“Tadi aku menyimpannya disini..”, serunya. Rangga membantu Kikha mencari batu di sekitar mobil dan belakang kantin, batu biru itu hilang. Lenyap bersama mantera jodoh yang membelenggu rantai persahabatan Kikha, Ines, dan Sashi.

Kikha dan Rangga tertawa bersama. Mobilnya melaju menuju rumah Kikha. Terlihat Ines, Eza ,dan Sashi sedang duduk-duduk di beranda depan penuh canda. Aneh, bibir Ines tak terlihat luka. Seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Kikha memeluk erat kedua sahabatnya bahagia, berharap tak ada lagi dari mereka yang terperdaya mantera. Mantera jodoh.
www.kinamariz.com -Image Source : Organicauthority.com-
KSI Medan, 29/05/2010
(Ditulis oleh : Sakinah Annisa Mariz)

1 comment

  1. Silahkan untuk berkomentar, namun ingat ya link hidup tidak diperkenankan diletak sembarangan di sini. Insya Allah saya siap kok blog walking tanpa harus nempel-nempel backlink. Ok. Thanks

    ReplyDelete

Mohon tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar. Terima kasih.

Literasi Digital