#SakinahMenulis-Drrrttt... alarm di hapeku bergetar tepat di angka 04.00 pagi. Dalam kondisi setengah terpejam, aku membuka mata perlahan, mencoba menggeser tanda “off alarm” di layar hape yang cahayanya terasa kontras dengan suasana kamar yang masih gelap. Pelan-pelan aku menguap dan meregangkan tubuh, bersiap memulai aktivitasku sebagai seorang ibu yang juga bekerja sebagai guru.
Hariku telah dimulai sejak aku membuka mata. Betapa aku selama ini tidak menyadari kalau “mata” adalah bagian dari diriku yang ikut bekerja ke mana-mana. Bahkan saat tubuhku bisa beristirahat, mataku tetap mendampingiku menjelajahi dunia.
Di subuh itu, mataku menuntunku untuk bersiap, membantuku beribadah, salat Subuh dan membaca Al-Qur’an. Mata juga menolongku mempersiapkan diri sebelum berangkat, memastikan penampilanku rapi, tidak salah mengancing kemeja, tidak salah menorehkan makeup, hingga memanduku mengendarai sepeda motor untuk berangkat bekerja di pagi buta.
Matahari belum terbit. Dalam dinginnya subuh yang syahdu, mataku tak boleh mengantuk saat berkendara. Saat itu aku lupa, bukan cuma tubuh yang bisa terasa lelah. Mataku juga bisa mengalami rasa kering dan lelah. Padahal, gejala mata sepet, perih, dan lelah bukan sesuatu yang seharusnya selalu dianggap sepele. Tapi, jujur saja, kadang aku masih menganggapnya sebagai hal biasa.
Perjalananku lancar. Alhamdulillah, aku tiba di sekolah, tempatku bekerja. Mataku tetap bertugas mengawasi. Aku harus memperhatikan puluhan, bahkan ratusan murid sepanjang hari. Menyampaikan materi pelajaran, membaca berbagai hal, bahkan menyiapkan bahan ajar yang kukerjakan di laptop. Saat waktunya istirahat, aku makan sambil mengedit pekerjaan di laptop. Kadang kala sambil video call dengan balitaku yang tinggal di rumah. Mataku punya banyak pekerjaan hingga akhirnya waktu pulang pun tiba.
Langit mulai menanjak sore. Aku tiba di rumah dan kembali pada tugasku sebagai ibu. Setelah berganti pakaian dengan seragam daster, aku langsung bertugas kembali. Membereskan seisi rumah yang menjadi playground anakku, mencuci piring, memasak, mengurus segala keperluan anak, hingga suara adzan Magrib berkumandang.
Aku menutup hari dengan meninabobokkan anakku. Tapi ternyata, yang boleh beristirahat cuma badanku. Mataku kembali kubuka untuk scrolling media sosial, membalas WhatsApp, membaca berita, sampai akhirnya tiba pada hobiku: menonton drama Korea. Bukannya kasihan dengan mataku yang sudah bekerja seharian, aku justru menyuruhnya “lembur” demi bisa menikmati hiburan favoritku. Alhasil, pada satu momen, aku mengalami gejala sepet-perih-lelah, yang kemudian aku kenal sebagai SePeLe.
“SePeLe”, tapi Ternyata Sering Terjadi
Menurut Alodokter, mata kering dapat membuat mata terasa tidak nyaman, cepat lelah, panas, atau seperti ada yang mengganjal. Keluhan juga bisa memburuk setelah terlalu lama menatap layar. Kalau aku ingat-ingat, sensasi mata sepet, perih, dan lelah ini sebenarnya cukup sering muncul dalam keseharianku.
Hal yang paling sering kurasakan adalah saat perjalanan naik sepeda motor. Hembusan angin dan debu di jalan kadang tidak bisa kita hindari. Meski selalu memakai kacamata, terkadang mata tetap terasa kurang nyaman saat berkendara. Belum lagi kalau tiba-tiba terkena serangga atau debu, refleks pertama yang muncul biasanya ingin langsung mengucek mata. Situasi lainnya adalah ketika aku terlalu lama menatap laptop, membaca bahan ajar, menonton layar HP, dan menjalani aktivitas seharian tanpa banyak jeda. Di sinilah aku mulai sadar kalau mataku sudah “minta perhatian”.
Dari pengalamanku sendiri, aku mulai merasa mataku memberi sinyal ketika terasa sepet dan perih setelah berlama-lama di depan laptop atau gadget. Mataku juga terasa lebih lelah, seperti ada rasa mengganjal, sampai rasanya ingin sering mengucek. Kalau sudah begitu, episode drakor yang sedang seru pun jadi terasa kurang nyaman karena mata ikut protes. Bayangkan saja, setelah seharian menghadapi pekerjaan, aku justru tidak bisa menikmati momen nonton drakor yang berharga karena mata keburu terasa lelah.
Makanya, kalau mulai terasa kurang nyaman, biasanya aku melakukan beberapa hal sederhana :
1. Aku membuat jeda dari menonton layar laptop, HP, atau TV.
2. Aku tidak terus memaksakan mata ketika sudah terasa tidak nyaman. Biasanya aku memejamkan mata sebentar dan mengompresnya.
3. Aku juga menyiapkan tetes mata yang sesuai dengan kebutuhanku.
Tetesin Insto Dry Eyes, Memberikan Perhatian untuk Mataku yang Berharga
Karena sehari-hari aku tetap harus bekerja dengan laptop, berkendara, mengurus anak, dan tentu saja aku belum rela meninggalkan drakor favoritku, aku akhirnya mencari cara yang praktis ketika mata terasa kering dan tidak nyaman.
Salah satu yang kugunakan adalah #InstoDryEyes (Sterile Eye Drops). Produk tetes mata ini mengandung Hydroxypropyl Methylcellulose (HPMC) yang berfungsi sebagai pelumas mata dan membantu meredakan keluhan akibat mata kering, seperti rasa tidak nyaman atau sensasi mengganjal pada mata.
Buatku, tetes mata Insto Dry Eyes cukup praktis di tengah rutinitasku yang memang tidak bisa jauh dari layar. Ketika mata mulai terasa SePeLe, aku jadi lebih sadar untuk berhenti sejenak, memperhatikan kondisinya, dan menggunakan tetes mata sesuai aturan pakai pada kemasan. #BebasMataKering
4 Hal yang Membuat Insto Dry Eyes Praktis Buatku
1. Praktis digunakan. Cara pakainya cukup diteteskan sesuai aturan pakai yang tertera pada kemasan.
2. Ukurannya 7,5 ml, jadi cukup mudah kusimpan di dalam tas dan kubawa ketika bepergian.
3. Mudah ditemukan. Kalau kebetulan persediaanku habis, aku bisa mencarinya di tempat yang mudah dijangkau, seperti Indomaret terdekat.
4. Menjadi bagian dari rutinitasku ketika mata mulai terasa kering dan SePeLe, sehingga aku lebih terbiasa untuk tidak mengabaikan sinyal dari mata.
Pada akhirnya, aku belajar bahwa mata juga punya batas.
Dulu aku mungkin sering mengabaikan gejala mata kering. Sekarang, ketika mata mulai terasa SePeLe, aku mencoba lebih peka dan tidak lagi menganggapnya sepele. #MataSePeLeJanganSepelein Memberi jeda dari layar, memperhatikan kondisi mata, dan menyiapkan Insto Dry Eyes ketika muncul gejala mata kering menjadi bagian kecil dari caraku untuk lebih peduli pada mataku yang berharga ini.
Karena menurutku, merawat diri tidak selalu harus dengan hal-hal besar. Kadang cukup dengan mendengarkan sinyal kecil dari tubuh yang selalu kita pakai untuk bekerja. Termasuk ketika mataku diam-diam bilang, “Hey, aku juga butuh diperhatikan!”
Ditulis oleh : Sakinah Annisa Mariz
Kamu pernah punya pengalaman mata SePeLe? kasih tahu aku dong apa yang harus dilakukan..
ReplyDelete